Hormuz Makin Panas, Brent Bisa Tembus US$100?
Harga minyak bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (17/08) setelah meningkatnya ketegangan di Lebanon dan serangan baru terhadap kapal di Selat Hormuz membuat prospek perdamaian AS-Iran semakin tidak pasti. Brent bergerak di bawah US$89 per barel setelah melonjak sekitar 6% pekan lalu, sementara WTI bertahan di sekitar US$82 per barel.
Risiko geopolitik kembali meningkat setelah Israel melancarkan serangan terhadap Hezbollah di Lebanon dalam salah satu hari pertempuran paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir. Pada saat yang sama, sejumlah kapal kembali diserang di kawasan Hormuz, termasuk kapal yang terafiliasi dengan Abu Dhabi National Oil Company. Negosiasi antara Washington dan Teheran juga masih mengalami kebuntuan.
Amerika Serikat terus meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui blokade laut dan rencana sanksi ekonomi tambahan. Pemerintahan Donald Trump memberi sinyal bahwa pembatasan baru terhadap Iran dapat diumumkan dalam waktu dekat. Iran sendiri dilaporkan memperkuat kesiapan militernya, termasuk produksi rudal dan drone serta koordinasi dengan kelompok sekutunya di kawasan.
Meski risiko gangguan pasokan tinggi, kenaikan minyak masih tertahan karena sebagian produsen Timur Tengah tetap mampu mengirimkan minyak dari Teluk Persia dalam jumlah besar. Iran dan Oman juga dilaporkan mulai mendekati kesepakatan mengenai pengelolaan Selat Hormuz, meskipun AS belum terlibat dan kemungkinan tetap menuntut kebebasan penuh bagi pelayaran komersial.
Analisis Newsmaker: Pasar minyak saat ini berada di antara risiko eskalasi geopolitik dan kekhawatiran kelebihan pasokan. Jika konflik AS-Iran meningkat dan pelayaran Hormuz kembali berhenti secara drastis, Brent berpotensi bergerak menuju US$100 per barel. Sebaliknya, jika pengiriman minyak tetap berjalan dan permintaan global melemah, tekanan koreksi menuju area US$80 masih terbuka.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id