Emas Tertekan, The Fed Membayangi
Harga emas menuju pelemahan mingguan terbesar sejak awal Juni karena meningkatnya konflik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi ini membuat pasar menilai The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga untuk menjaga tekanan harga tetap terkendali.
Pada Jumat, emas sempat naik tipis ke sekitar US$3.980 per troy ounce. Namun, secara mingguan, harga masih turun sekitar 3,4%. Tekanan utama datang setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke Iran, termasuk setelah serangan sebelumnya menghantam tanker minyak di dekat terminal ekspor utama Iran.
Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi ikut membebani emas. Karena emas dihargakan dalam dolar dan tidak memberikan imbal hasil, kenaikan dolar serta yield membuat logam mulia menjadi kurang menarik bagi investor.
Di sisi lain, harga minyak masih bertahan dalam kenaikan mingguan besar akibat risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz. Konflik yang sudah berlangsung berbulan-bulan ini kembali mengangkat harga energi dan memperbesar risiko inflasi global.
Sejumlah pejabat The Fed mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi. Jika harga energi terus naik, pasar khawatir bank sentral AS harus kembali membuka peluang kenaikan suku bunga. Hal ini menjadi sentimen negatif bagi emas.
Dampaknya ke market, emas masih perlu dorongan kuat untuk kembali stabil di atas US$4.000. Jika harga minyak mulai mereda dan nada hawkish The Fed melemah, emas bisa mendapat ruang rebound. Namun, selama dolar, yield, dan risiko inflasi energi masih tinggi, XAU/USD tetap rawan tertekan.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id