Emas Tertahan di Bawah Bayang Minyak
Harga emas masih tertekan pada perdagangan Rabu (15/7) meskipun dolar AS melemah setelah data inflasi Amerika Serikat keluar lebih rendah dari perkiraan. XAU/USD tetap bertahan di atas level psikologis US$4.000, namun belum mampu membangun kenaikan yang kuat karena pasar masih dihantui risiko inflasi dari harga energi.
Data CPI AS sebenarnya memberi angin positif bagi emas. Inflasi utama turun 0,4% pada bulan Juni, sementara CPI inti tidak berubah secara bulanan. Secara tahunan, inflasi utama melambat menjadi 3,5% dan CPI inti turun menjadi 2,6%. Angka ini sempat membuat pasar memperkirakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan menekan dolar ke level terendah hampir empat minggu.
Namun, efek positif itu cepat memudar setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa bank sentral tidak akan menoleransi inflasi yang tetap tinggi. Pernyataan ini membuat pasar tetap membuka peluang bahwa The Fed masih bisa menaikkan suku bunga pada bulan September atau Desember, terutama jika harga minyak kembali mendorong inflasi.
Tekanan terbesar bagi emas datang dari konflik AS-Iran yang semakin memanas. Serangan udara AS terhadap Iran dibalas dengan serangan ke aset militer Amerika di kawasan Teluk. Pada saat yang sama, Trump diberitahu bahwa AS bisa menyerang jembatan dan pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak kembali ke meja negosiasi. Kondisi ini membuat harga minyak tetap tinggi dan menjaga kekhawatiran inflasi energi.
Dampaknya ke pasar, emas masih berada di posisi sulit. Dolar yang melemah memang memberi sedikit dukungan, tetapi peluang kenaikan suku bunga The Fed dan risiko minyak tinggi masih menjadi beban besar bagi emas batangan. Fokus pasar berikutnya muncul pada data PPI AS, kesaksian lanjutan Kevin Warsh, dan perkembangan konflik Timur Tengah yang bisa menentukan arah emas dalam jangka pendek.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id