Perang Panaskan Inflasi, Emas Tertekan
Harga emas kembali melemah pada perdagangan Rabu (15/7) di tengah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memicu kekhawatiran inflasi. Pasar mulai khawatir bahwa kenaikan harga energi dapat membuat The Fed tetap mempertahankan sikap ketat untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Emas sempat turun hingga 0,9% ke dekat US$4.020 per troy ounce, setelah sebelumnya naik 1,3% pada Selasa. Kenaikan sebelumnya dipicu oleh data CPI AS yang menunjukkan harga konsumen turun pada Juni untuk pertama kalinya dalam enam tahun.
Namun, sentimen positif dari data inflasi mulai tertahan setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa AS akan terus menyerang Iran. Trump bahkan membuka peluang untuk menargetkan pembangkit listrik dan jembatan pekan depan jika Teheran tidak kembali ke meja negosiasi.
Ketegangan makin besar setelah Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz dan jalur pelayaran lainnya akan ditutup sampai AS menghentikan serangannya. Gangguan pada jalur energi penting Timur Tengah ini mendorong harga minyak dan gas alam naik untuk hari ketiga berturut-turut.
Di sisi kebijakan moneter, Ketua The Fed Kevin Warsh juga memberi sinyal bahwa data inflasi yang lebih rendah belum berarti misi melawan inflasi sudah selesai. Pernyataan ini membuat pasar kembali menimbang kemungkinan bahwa The Fed masih bisa menaikkan suku bunga jika tekanan harga kembali meningkat.
Dampaknya ke market, emas masih berada di posisi sensitif. Data CPI yang adem memang menurunkan peluang kenaikan suku bunga Juli menjadi di bawah 20%, tetapi lonjakan harga energi akibat konflik AS-Iran bisa menghidupkan kembali risiko inflasi. Jika dolar dan yield kembali menguat, emas berpotensi tetap tertekan meskipun ketidakpastian geopolitik masih memberi dukungan sebagai aset aman. (arl)
Sumber : Newsmaker.id