Emas Tenang, Risiko Belum Hilang
Harga emas bergerak stabil di sekitar US$4.050 per troy ounce setelah sebelumnya menguat 1,3%. Penguatan ini terjadi karena data inflasi Amerika Serikat bulan Juni keluar lebih rendah dari perkiraan, sehingga tekanan terhadap The Fed untuk segera menaikkan suku bunga mulai berkurang.
Data CPI AS menunjukkan harga konsumen turun secara bulanan untuk pertama kalinya dalam enam tahun. Penurunan terbesar datang dari harga bensin, yang memberi ruang bagi pasar untuk menilai bahwa tekanan inflasi mulai mereda setelah sempat dipicu oleh perang Iran.
Dampaknya langsung terasa di pasar obligasi. Pelaku pasar mulai mengurangi taruhan kenaikan suku bunga The Fed pada Juli. Peluang kenaikan suku bunga bulan ini turun menjadi sekitar 17%, jauh lebih rendah dibandingkan hampir 50% sehari sebelumnya.
Meski begitu, emas belum sepenuhnya bebas dari tekanan. Ketua The Fed Kevin Warsh memang tidak memberi sinyal langsung soal kenaikan suku bunga, tetapi ia menegaskan bahwa The Fed masih memiliki alat untuk menjaga inflasi tetap menuju target 2%. Pernyataan ini membuat pasar tetap membaca nada hawkish dari bank sentral.
Risiko lain datang dari Timur Tengah. Meskipun Trump membatalkan rencana pungutan 20% untuk kargo yang melewati Selat Hormuz, AS tetap melanjutkan blokade terhadap kapal Iran dan kembali menyerang target yang dianggap mengancam pelayaran komersial. Jika harga minyak kembali naik, tekanan inflasi bisa muncul lagi dalam data bulan berikutnya.
Untuk saat ini, area US$4.000 mulai dilihat sebagai lantai penting bagi emas. Namun, kenaikan emas masih bisa tertahan jika dolar dan yield kembali menguat. Jadi, meski CPI yang adem memberi napas baru, arah emas berikutnya tetap bergantung pada data inflasi lanjutan, komentar The Fed, dan perkembangan konflik AS-Iran.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id