Gold Terjepit Konflik dan Suku Bunga!
Harga emas bergerak di sekitar US$4.100 per troy ounce pada perdagangan Rabu (08/7) setelah sebelumnya turun lebih dari 1%. Tekanan muncul setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara baru terhadap Iran, menyusul rangkaian serangan terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Eskalasi terbaru ini membuat pasar kembali khawatir terhadap stabilitas Timur Tengah. Serangan AS tersebut berisiko mengganggu kesepakatan damai sementara antara Washington dan Teheran yang sebelumnya sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.
Harga minyak ikut naik setelah ketegangan meningkat. Kenaikan harga energi kembali memunculkan kekhawatiran inflasi, karena biaya minyak yang lebih tinggi dapat menekan harga barang dan transportasi. Jika inflasi kembali menguat, Federal Reserve berpotensi mempertahankan sikap ketat atau membuka peluang kenaikan suku bunga.
Kondisi tersebut menjadi tekanan bagi emas. Meski emas biasanya diminati saat risiko geopolitik meningkat, prospek suku bunga tinggi justru menjadi beban. Emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga ketika peluang kenaikan suku bunga naik, investor cenderung melirik aset berbunga seperti obligasi pemerintah.
Selain serangan militer, Amerika Serikat juga mencabut izin yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak mentah di pasar global. Langkah ini dapat memperbesar risiko gangguan pasokan, terutama jika kapal-kapal dan produsen kawasan Teluk semakin enggan menggunakan Selat Hormuz sebagai jalur pengiriman energi.
Ke depan, fokus pasar masih tertuju pada risalah rapat Federal Reserve bulan Juni. Investor ingin melihat apakah The Fed tetap hawkish atau mulai lebih hati-hati setelah data tenaga kerja AS melemah. Untuk emas, area US$4.100 menjadi level penting. Jika bertahan, peluang rebound masih terbuka, tetapi jika jebol, tekanan jual bisa berlanjut.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id