Emas Turun, Hormuz Picu Kekhawatiran Inflasi
Harga emas kembali melemah untuk hari kedua setelah serangan baru terhadap kapal di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar. Jalur tersebut menjadi salah satu rute penting bagi pengiriman minyak dan gas alam dunia, sehingga gangguan keamanan di kawasan ini langsung menjadi perhatian investor.
Emas sempat turun hingga 1,2% ke bawah US$4.120 per troy ounce, setelah pada Senin juga melemah 0,3%. Tekanan muncul setelah sebuah tanker LNG dilaporkan terkena proyektil di dekat Oman. Selain itu, Axios melaporkan bahwa Iran menembakkan setidaknya dua rudal ke kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak akibat insiden tersebut kembali menyalakan kekhawatiran inflasi. Jika harga energi naik, tekanan inflasi bisa ikut meningkat. Kondisi ini dapat memperbesar peluang Federal Reserve untuk tetap mempertahankan sikap ketat atau bahkan membuka ruang kenaikan suku bunga, yang menjadi sentimen negatif bagi emas karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Meski turun, pergerakan emas masih berada dalam rentang yang relatif sempit. Investor kini menunggu risalah rapat The Fed bulan Juni yang akan dirilis pekan ini. Dokumen tersebut akan menjadi petunjuk penting untuk melihat apakah The Fed masih condong hawkish atau mulai lebih hati-hati setelah data tenaga kerja AS melemah pekan lalu.
Secara teknikal, emas masih mencoba bertahan di atas area psikologis US$4.000 setelah sebelumnya sempat jatuh ke bawah level tersebut. Aksi bargain hunting atau beli saat harga turun membantu emas kembali naik di atas rata-rata pergerakan 10 hari. Namun, resistance masih terlihat di sekitar US$4.180, sementara support teknikal berada di atas US$4.130.
Pada pukul 14.50 waktu Singapura, emas spot turun 0,8% ke level US$4.130,61 per troy ounce. Perak melemah 1,4% ke US$61,21 per ounce, sementara platinum dan palladium juga ikut turun. Di sisi lain, Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,1%, menambah tekanan bagi harga emas.(yds)
Sumber: Newsmaker.id