Emas Tertekan, Inflasi Kembali Jadi Ancaman?
Harga emas kembali melemah pada perdagangan Selasa (07/7), setelah kekhawatiran inflasi kembali membayangi pasar. Emas atau XAU/USD turun untuk hari kedua berturut-turut dan bergerak ke area US$4.125–US$4.124 per troy ounce pada sesi Asia.
Tekanan terhadap emas muncul setelah harga minyak mentah naik tipis akibat ketegangan baru di Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat kembali meningkat. Kondisi ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat naik dan membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik.
Ketegangan di Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama pasar. Iran disebut berupaya memperkuat kendali strategis di jalur tersebut dan berencana mengenakan biaya kepada kapal yang melintas. Teheran menyebut biaya itu berkaitan dengan keamanan, pengawasan kapal, dan perlindungan lingkungan, meski langkah tersebut mendapat penolakan dari Amerika Serikat.
Situasi makin rumit setelah sebuah badan maritim melaporkan bahwa kapal tanker minyak terkena proyektil tidak dikenal saat melintasi Selat Hormuz. Insiden ini memperburuk ketidakpastian terhadap kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran, sekaligus memberi dukungan bagi harga minyak mentah.
Di sisi lain, pelemahan emas masih tertahan oleh meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Laporan tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan membuat pelaku pasar menurunkan proyeksi kenaikan suku bunga The Fed pada 2026. Kondisi ini turut menekan dolar AS dan membantu membatasi penurunan emas.
Pelaku pasar kini menunggu risalah rapat FOMC yang akan dirilis pada Rabu untuk mencari petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan The Fed. Secara teknikal, pergerakan emas masih cenderung rapuh dan berisiko melanjutkan penurunan jika tekanan jual berlanjut. Namun, selama dolar AS tidak menguat signifikan, pelemahan emas berpotensi tetap terbatas.(asd)*
Sumber: Newsmaker