Dolar AS Menguat, Hormuz Jadi Sorotan
Indeks Dolar AS atau DXY, yang mengukur kekuatan dolar Amerika Serikat terhadap enam mata uang utama dunia, masih mempertahankan penguatan pada perdagangan Selasa sesi Eropa. DXY bergerak di sekitar level 100,90 setelah dua hari sebelumnya cenderung datar. Penguatan dolar didukung oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik baru.
Ketegangan kembali muncul di Selat Hormuz setelah adanya laporan bahwa Iran menembakkan sedikitnya dua rudal ke kapal komersial yang melintas di jalur strategis tersebut pada Senin malam. Dua kapal dilaporkan mengalami kerusakan signifikan, tetapi tidak ada korban jiwa.
Secara terpisah, UK Maritime Trade Operations atau UKMTO juga mengonfirmasi bahwa sebuah tanker yang bergerak ke arah selatan terkena proyektil tak dikenal di sisi kiri kapal. Serangan tersebut memicu kebakaran di atas kapal dan kembali menyoroti risiko keamanan di salah satu jalur energi paling penting dunia.
Meski begitu, ruang penguatan dolar AS masih bisa terbatas. Pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan ini maupun September. Perubahan sentimen ini terjadi setelah laporan tenaga kerja AS menunjukkan jumlah penambahan pekerjaan pada April, Mei, dan Juni lebih rendah dari perkiraan Wall Street.
Selain itu, aktivitas sektor jasa AS juga sedikit melambat. ISM Services PMI bulan Juni turun ke 54,0 dari sebelumnya 54,5, sesuai ekspektasi pasar. Meski turun, angka ini masih berada di atas level 50, yang berarti sektor jasa AS tetap berada dalam fase ekspansi.
Dari komponen laporan tersebut, indeks harga turun dari 71,3 ke 67,7, menandakan tekanan harga mulai mereda. Sementara itu, indeks tenaga kerja membaik cukup kuat dari 47,9 ke 51,2, keluar dari zona kontraksi. Dolar AS juga masih mendapat dukungan dasar dari komentar hawkish Gubernur The Fed Christopher Waller serta data ekonomi domestik AS yang masih cukup tangguh.(yds)
Sumber: Newsmaker.id