Diplomasi AS-Iran Buntu, Risiko Perang Kembali Naik
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberi tekanan keras kepada Iran. Ia mengatakan bahwa AS hanya memiliki dua pilihan, yaitu mencapai kesepakatan dengan Iran atau melanjutkan langkah militer untuk “menyelesaikan pekerjaan.” Pernyataan ini muncul setelah pembicaraan tidak langsung AS-Iran berakhir tanpa tanda kemajuan besar.
Trump menyampaikan bahwa dirinya lebih memilih tercapainya kesepakatan karena tidak ingin berdampak pada puluhan juta warga Iran. Namun, ia juga menegaskan bahwa AS memiliki kemampuan untuk menyerang infrastruktur penting Iran jika jalur diplomasi gagal.
Pernyataan tersebut langsung dibalas keras oleh Iran. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Baqer Zolqadr, menyebut ancaman Trump sebagai pernyataan yang tidak realistis. Ia menegaskan bahwa rakyat Iran tidak bisa ditekan dengan bahasa ancaman dan meminta AS berbicara dengan rasa hormat.
Ketegangan ini terjadi setelah pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang berlangsung pada akhir pekan. Dalam prosesi tersebut, massa di Iran terlihat menunjukkan sikap menantang dan tidak ingin tampak melemah setelah konflik yang dipicu serangan AS dan Israel pada akhir Februari.
Sebelumnya, Washington mendorong gencatan senjata 60 hari sebagai ruang untuk menghidupkan kembali diplomasi. Fokus utama AS adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun, belum adanya terobosan dalam pembicaraan membuat risiko eskalasi kembali menjadi perhatian utama.
Bagi pasar global, ketegangan AS-Iran tetap menjadi faktor penting yang perlu dipantau. Jika konflik kembali memanas, harga minyak, emas, dolar AS, dan aset safe haven berpotensi bergerak lebih volatil. Sebaliknya, jika kesepakatan mulai terlihat, tekanan geopolitik bisa mereda dan memberi ruang bagi sentimen risiko untuk membaik.(arl)
Sumber : Newsmaker.id