Minyak Merosot, Arus Hormuz Tembus 10 Juta Barel per Hari
Harga minyak kembali melemah dan bergerak di bawah level sebelum perang, seiring Arab Saudi meningkatkan ekspor minyak mentah menuju tingkat normal. Pemulihan arus pasokan dari Teluk Persia ini memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi surplus minyak global.
Minyak Brent turun mendekati US$70 per barel di London, menyentuh level terendah sejak sepekan sebelum perang Iran dimulai pada 28 Februari. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI AS melemah mendekati US$67 per barel.
Berdasarkan data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg, Arab Saudi berhasil memuat minyak mentah hampir 90% dari level sebelumnya setelah kembali mengirimkan pasokan dari terminal besar Ras Tanura pada akhir pekan lalu. Pemulihan ini mirip dengan Uni Emirat Arab yang sebelumnya telah mengembalikan ekspor minyak ke level pra-konflik di atas 3,9 juta barel per hari.
Seorang pejabat AS memperkirakan pasokan minyak melalui Selat Hormuz kini telah mencapai lebih dari 10 juta barel per hari. Kondisi ini meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan mengurangi risiko lonjakan inflasi yang dipicu oleh harga minyak.
Namun, derasnya pasokan baru datang ketika sejumlah langkah darurat masa perang masih berjalan, termasuk pelepasan cadangan minyak dan rendahnya impor dari China. Struktur harga Brent juga berada dalam pola bearish contango, yang menunjukkan kelebihan pasokan jangka pendek, sementara premi minyak fisik ikut turun dalam beberapa hari terakhir.
Kepala riset komoditas JPMorgan Chase & Co., Natasha Kaneva, menilai pasar akan menghadapi gelombang pasokan minyak baru. Menurutnya, kenaikan pasokan tersebut berpotensi bertabrakan dengan kondisi pasar yang saat ini belum membutuhkan tambahan minyak dalam jumlah besar. Brent juga terus melemah setelah mencatat penurunan kuartalan terbesar sejak pandemi 2020, dengan koreksi lebih dari 40% dari puncaknya saat perang memanas.(yds)
Sumber: Newsmaker.id