Harga Emas Turun, Simak Penyebabnya!
Harga emas melemah pada perdagangan Selasa (23/06) setelah kekhawatiran inflasi kembali mendominasi sentimen pasar. Logam mulia sempat turun hingga mendekati US$4.115 per troy ounce, menghapus penguatan tipis yang terjadi pada sesi sebelumnya. Tekanan ini muncul karena pasar menilai konflik berkepanjangan di Timur Tengah masih berpotensi mendorong harga energi lebih tinggi dan menjaga inflasi tetap panas.
Kekhawatiran tersebut membuat investor kembali memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga oleh bank sentral. Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, menyatakan kekhawatirannya terhadap inflasi yang masih berada jauh di atas target dan bergerak ke arah yang kurang menguntungkan. Sikap hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh juga memperkuat pandangan bahwa bank sentral Amerika Serikat belum akan melonggarkan kebijakan dalam waktu dekat.
Dolar AS yang menguat turut menjadi beban tambahan bagi emas. Sejak rapat terakhir The Fed, dolar telah naik lebih dari 1%, sehingga membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Deutsche Bank menilai perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed, ditambah data ekonomi Amerika Serikat yang masih cukup kuat, menjadi faktor utama yang menekan harga emas. Bank tersebut juga memangkas proyeksi harga emas menjadi US$4.300 per troy ounce untuk kuartal ketiga dan US$4.800 pada akhir tahun.
Tekanan terhadap emas juga terlihat di pasar logam lainnya. Silver turun tajam ke sekitar US$62,72 per troy ounce, sementara platinum dan palladium masing-masing melemah lebih dari 2%. Investor kini menunggu rilis data Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat pada Kamis. Data ini menjadi indikator inflasi favorit The Fed dan akan sangat menentukan apakah pasar semakin yakin terhadap arah suku bunga tinggi.
Meski begitu, emas masih mendapat sedikit dukungan dari perkembangan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut pembicaraan dengan Tehran berjalan sangat baik, sementara pejabat Iran juga menyampaikan adanya kemajuan. Namun, pasar menilai hambatan masih besar, sehingga optimisme damai belum cukup kuat untuk mengalahkan tekanan dari inflasi, dolar AS, dan ekspektasi suku bunga tinggi. Untuk saat ini, emas diperkirakan masih bergerak dalam rentang US$4.000 hingga US$4.300 sampai ada data baru yang mampu mengubah arah pasar.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id