Emas Rebound, Pasar Cermati Damai AS-Iran dan Arah The Fed
Harga emas bergerak menguat pada perdagangan Senin (22/6/2026), memulihkan sebagian tekanan setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam lebih dari satu pekan. Spot emas naik ke kisaran $4.180 hingga $4.199 per troy ounce, didukung oleh turunnya harga minyak mentah setelah muncul kemajuan dalam pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Penguatan emas terjadi karena penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi berbasis energi. Pasar menilai kemajuan diplomasi AS-Iran dapat membuka peluang tambahan pasokan minyak mentah ke pasar global, terutama jika aliran energi dari kawasan Teluk Persia kembali pulih. Kondisi ini membuat tekanan terhadap harga minyak mereda dan memberi ruang bagi emas untuk bangkit dari tekanan tiga sesi sebelumnya.
Pembicaraan antara pejabat Amerika Serikat dan Iran di Swiss disebut menghasilkan kemajuan yang menggembirakan, meskipun ketegangan di Lebanon dan Selat Hormuz masih menjadi risiko utama. Mediator Qatar dan Pakistan menyatakan kedua pihak menyepakati peta jalan menuju kesepakatan lebih luas dalam 60 hari ke depan. Pasar kini mencermati apakah proses teknis lanjutan dapat menghasilkan kepastian yang lebih kuat terhadap stabilitas kawasan.
Meski begitu, kenaikan emas masih tertahan oleh prospek kebijakan moneter Amerika Serikat yang tetap hawkish. Setelah pertemuan Federal Reserve pekan lalu, pelaku pasar meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga pada akhir tahun. Sembilan dari 19 pejabat The Fed juga disebut melihat perlunya kenaikan suku bunga tahun ini, sehingga sentimen tersebut membatasi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Dari sisi pasar, kenaikan suku bunga biasanya menjadi tekanan bagi emas karena investor cenderung beralih ke aset berbunga seperti obligasi. Bank of America juga menilai target harga emas di US$6.000 per troy ounce menjadi lebih sulit tercapai apabila pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga. Namun, bank tersebut tetap menilai faktor kebijakan makro Amerika Serikat yang tidak biasa masih menjadi dasar utama pandangan bullish jangka panjang terhadap emas.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut menjadi indikator inflasi favorit The Fed dan dapat memberi arah baru bagi ekspektasi suku bunga.
Jika inflasi mulai mereda, emas berpeluang mempertahankan rebound. Namun, apabila inflasi tetap kuat, tekanan dari dolar AS dan yield obligasi dapat kembali membatasi kenaikan harga emas.(yds)
Sumber: Newsmaker.id