Harga Emas Menuju Pelemahan Mingguan, Sinyal Hawkish The Fed Jadi Tekanan Utama
Harga emas bergerak melemah dan berpotensi mencatatkan penurunan mingguan ketiga secara beruntun. Tekanan terhadap emas datang dari sikap hawkish Federal Reserve yang kembali mengangkat ekspektasi kenaikan suku bunga pada tahun ini. Sentimen tersebut bahkan mampu menutupi dampak positif dari penandatanganan kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada perdagangan Jumat (19/06), harga emas sempat turun hingga 2,1% ke sekitar US$4.122 per ons. Pelemahan ini terjadi setelah Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, memberikan nada kebijakan yang lebih ketat pada Rabu lalu. Pernyataan tersebut meningkatkan spekulasi bahwa bank sentral AS masih berpeluang menaikkan suku bunga. Kondisi ini menjadi beban bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.
Di sisi lain, aktivitas pelayaran komersial mulai kembali masuk ke Selat Hormuz setelah Amerika Serikat menyatakan berakhirnya blokade di kawasan tersebut. Pembukaan kembali jalur penting ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap risiko kekurangan energi berkepanjangan. Namun, tekanan inflasi belum sepenuhnya hilang karena analis memperkirakan volume pengiriman minyak dan gas alam cair melalui Selat Hormuz membutuhkan waktu berbulan-bulan, atau bahkan lebih lama, untuk kembali normal.
Christopher Wong, ahli strategi dari Oversea-Chinese Banking Corp., menilai pembukaan kembali Selat Hormuz sebenarnya menjadi sentimen positif bagi emas. Namun, dampaknya tertahan oleh ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed. Menurutnya, secara historis emas cenderung melemah menjelang kenaikan suku bunga pertama. Meski begitu, peluang pemulihan emas tetap terbuka apabila kenaikan suku bunga tersebut hanya bersifat antisipatif, bukan awal dari siklus kenaikan yang lebih panjang.
Hingga pukul 14.25 waktu Singapura, harga emas turun 1,6% ke level US$4.144,58 per ons. Pelemahan juga terjadi pada logam mulia lainnya, dengan perak turun 2,4% ke US$64,1235 per ons, sementara platinum dan palladium ikut terkoreksi. Di saat yang sama, Bloomberg Dollar Spot Index menguat 0,1% dan mencatat kenaikan 0,9% sepanjang pekan ini. Penguatan dolar AS turut menambah tekanan bagi emas karena membuat harga komoditas tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. (asd)
Sumber: Newsmaker.id