Emas Sideways, Pasar Uji Konflik Tetap Terkendali
Emas bertahan di zona lemah pada perdagangan Asia Rabu setelah bentrokan baru di Teluk Persia kembali menekan harapan terobosan cepat kesepakatan damai AS–Iran. Bullion diperdagangkan sedikit di atas US$4.500 per ounce setelah turun 1,4% pada Selasa, sementara Menlu AS Marco Rubio mengatakan setiap pakta kemungkinan masih membutuhkan beberapa hari untuk difinalisasi.
Ketegangan di sekitar Selat Hormuz terjadi ketika kedua pihak tetap menyampaikan sinyal progres menuju kesepakatan sementara. Di saat yang sama, pasar juga mulai memegang skenario konflik tetap “terbatas”, sehingga sebagian pelaku pasar kembali mengambil risiko dan mendorong ekuitas mencetak level tertinggi baru. Kombinasi ini membuat emas bergerak defensif namun tidak mendapat dorongan kuat, karena risk-on membatasi permintaan lindung nilai.
Dari sisi fundamental, faktor yang paling membebani emas adalah kanal inflasi dan suku bunga. Lonjakan energi selama konflik meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mendorong pasar menaikkan taruhan kebijakan ketat, yang biasanya menekan aset tanpa imbal hasil seperti emas. TD Securities menilai optimisme deal memang memberi bantalan, tetapi situasi tetap rapuh dan “pricing” masih condong ke risiko turun.
Kekhawatiran dampak inflasi energi juga tercermin pada komentar otoritas, termasuk peringatan Gubernur BoJ Kazuo Ueda bahwa kenaikan harga minyak dapat memperburuk prospek inflasi Jepang. Sejumlah analis menilai pembacaan inflasi terbaru di berbagai ekonomi utama memperkuat ekspektasi bank sentral mempertahankan sikap hawkish lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan tambahan. Pada 12:49 waktu Singapura, emas spot relatif stabil di US$4.514,36 per ounce; perak turun tipis ke US$76,97, sementara dolar bergerak datar. (asd)
Sumber: Newsmaker.id