Emas Menuju Pekan Terburuk Enam Tahun, Perang Tekan Peluang Pemangkasan
Harga emas mengarah ke penurunan mingguan terbesar dalam enam tahun, seiring perang di Timur Tengah mendorong lonjakan energi dan memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga. Emas batangan pada Jumat bergerak terbatas di sekitar US$4.660 per ons, tetapi sudah turun lebih dari 7% sepanjang pekan ini—terlemah sejak Maret 2020.
Kenaikan tajam harga minyak mentah, gas alam, dan bahan bakar akibat konflik kembali mengangkat kekhawatiran inflasi, sehingga menurunkan peluang bank sentral menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Kondisi ini menjadi beban bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil, terlebih ketika imbal hasil Treasury dan dolar AS ikut menguat.
Meski kerap dipandang sebagai aset lindung nilai geopolitik, emas tercatat turun setiap pekan sejak AS dan Israel menyerang Iran bulan lalu. Pelemahan diperparah oleh aksi jual untuk menutup kerugian di aset lain, serta arus keluar dari ETF berbasis emas, yang menghapus seluruh kenaikan kepemilikan sejak awal tahun.
Federal Reserve pekan ini menahan suku bunga, sesuai ekspektasi. Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa pelonggaran baru dapat dilanjutkan jika ada kemajuan dalam menurunkan inflasi, memperkuat narasi bahwa suku bunga bisa bertahan tinggi lebih lama ketika tekanan harga kembali menguat melalui kanal energi.
Dalam tiga pekan terakhir, ETF emas global diperkirakan mencatat arus keluar beruntun, dengan kepemilikan turun lebih dari 60 ton menurut data Bloomberg. Di sisi teknikal, emas baru saja mengakhiri rangkaian turun tujuh hari pada Kamis—terpanjang sejak Oktober 2023—dan indikator RSI 14 hari turun di bawah 35, mendekati area yang sebagian pelaku pasar anggap “oversold”.
Meski koreksi tajam, emas masih naik sekitar 8% sepanjang tahun ini setelah sempat menyentuh rekor mendekati US$5.600 pada akhir Januari, ditopang minat investor, pembelian bank sentral, dan kekhawatiran soal independensi The Fed. Sejumlah analis menilai jika perang berlarut, fokus pasar bisa bergeser dari inflasi menuju risiko resesi—kondisi yang berpotensi mengembalikan peran safe-haven emas. (asd)
Sumber : Newsmaker.id