Emas Tertekan Meski Geopolitik Memanas
Harga emas kembali melemah meski ketegangan geopolitik meningkat, karena reli minyak dan gas memperkuat kekhawatiran inflasi dan menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga.
Analis Commerzbank Research Barbara Lambrecht menilai emas “gagal memetik manfaat” dari krisis geopolitik, karena kenaikan energi justru mendorong risiko inflasi yang bisa memaksa bank sentral mengambil langkah penahan.
Lonjakan harga energi mengubah cara pasar membaca emas. Jika inflasi kembali menguat, ruang pelonggaran kebijakan moneter menyempit, sehingga suku bunga riil dan imbal hasil berpotensi tetap tinggi lebih lama—kondisi yang biasanya tidak ramah bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Di AS, tekanan itu datang bersamaan dengan data konsumsi terbaru yang menunjukkan belanja hanya naik tipis pada Januari di tengah pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan. Laporan tersebut menambah kekhawatiran bahwa tekanan harga sudah terbentuk bahkan sebelum serangan terhadap Iran, memperkuat narasi bahwa inflasi bisa lebih “lengket” saat energi kembali mahal.
Sentimen konsumen AS juga melemah. Indikator kepercayaan konsumen dilaporkan turun ke level terendah tiga bulan, seiring meningkatnya kekhawatiran dalam beberapa pekan terakhir terkait dampak kenaikan harga bensin akibat konflik.
Pasar suku bunga bergerak sejalan dengan tema tersebut. Pelaku pasar kini melihat nyaris tidak ada peluang pemangkasan suku bunga pada rapat The Fed pekan depan, dan sekitar 80% peluang penurunan suku bunga pada tahun ini. Jika tekanan inflasi berlanjut, kembalinya siklus pemangkasan bisa tertunda, di saat Presiden Donald Trump terus mendorong penurunan suku bunga.
Meski tertekan, emas masih mencatat kenaikan sekitar 16% sepanjang tahun berjalan dan relatif bertahan di atas ambang US$5.000 per ons, menunjukkan dukungan struktural belum sepenuhnya hilang.
Pada pukul 16.04 di New York, spot gold turun 1,2% ke US$5.019,68 per ons dan berada di jalur penurunan mingguan sekitar 3%, yang berpotensi menjadi penurunan mingguan beruntun pertama sejak November.
Perak turun 4,2% ke US$80,29, sementara platinum dan palladium juga melemah. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,6% dan berada di jalur kenaikan mingguan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id