Emas Turun Hari Ketiga, Risiko Inflasi Perang Iran Tekan Bullion
Harga emas memperpanjang pelemahan untuk hari ketiga, dengan perhatian investor tetap tertuju pada peluang perundingan AS-Iran sementara penutupan Selat Hormuz yang belum jelas ujungnya terus meningkatkan risiko inflasi. Bullion sempat turun hingga 0,9% dan diperdagangkan di sekitar US$4.557 per ons, setelah melemah 2,4% dalam dua sesi sebelumnya.
Tekanan datang dari eskalasi risiko pasokan energi: AS memberi sinyal akan mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran untuk menekan ekspor minyak Teheran. Di sisi diplomasi, mediator di Pakistan memperkirakan Iran akan mengajukan proposal revisi dalam beberapa hari ke depan, menurut laporan CNN, sehingga pasar menimbang peluang de-eskalasi versus skenario gangguan energi yang lebih panjang.
Kenaikan harga energi dipandang memperbesar kemungkinan bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkan, kondisi yang menjadi hambatan bagi emas yang tidak memberi imbal hasil. Di saat yang sama, naiknya imbal hasil obligasi meningkatkan opportunity cost memegang emas, memperkuat tekanan jual ketika narasi inflasi kembali dominan.
Pelaku pasar juga mencermati rangkaian keputusan suku bunga di AS, Uni Eropa, Inggris, dan Kanada dalam beberapa hari ke depan. Bank of Japan pada Selasa menahan suku bunga acuan di 0,75% dengan hasil voting yang terbelah, yang dinilai meningkatkan peluang kenaikan pada Juni, sementara Federal Reserve secara luas diperkirakan menahan suku bunga pada pertemuan Rabu.
Dari sisi posisi pasar, emas telah turun hampir 14% sejak konflik dimulai pada akhir Februari, sementara harga minyak melonjak. Tekanan teknikal juga muncul setelah penembusan di bawah area support sekitar US$4.650, menurut Ole Hansen dari Saxo Bank, dengan fokus jangka pendek pasar tetap pada efektivitas mediasi dan arah Selat Hormuz karena pembukaan kembali jalur itu serta penurunan minyak dipandang sebagai katalis positif utama bagi logam. Pada 9:54 pagi waktu London, spot gold turun 0,5% ke US$4.574,72 per ons, sementara indeks dolar Bloomberg naik 0,1%. (gn)*
Sumber: Newsmaker.id