Emas Reli, Ketidakpastian Tarif AS Menekan Dolar
Emas menguat setelah mencatat tiga pekan berturut-turut kenaikan, seiring meningkatnya ketidakpastian atas kebijakan dagang AS yang mengguncang pasar dan menekan dolar.
Logam mulia itu sempat naik hingga 1,4% mendekati US$5.180 per ons. Presiden Donald Trump pada Sabtu mengatakan akan memberlakukan tarif global 15% untuk mempertahankan kebijakan-kebijakan terkait, setelah Mahkamah Agung AS memutuskan melawan penggunaan kewenangan darurat yang ia pakai untuk menetapkan bea masuk. Melemahnya dolar membuat emas menjadi lebih murah bagi banyak pembeli.
Putusan Mahkamah Agung itu berpotensi berdampak pada defisit anggaran pemerintah AS karena penerimaan dari tarif terancam, sekaligus dapat memengaruhi neraca perdagangan negara tersebut. Tarif 15% yang digulirkan Gedung Putih dimaksudkan untuk menggantikan tarif yang dibatalkan pengadilan, namun kebijakan ini hanya diizinkan berlaku maksimal 150 hari dan hanya dalam kondisi masalah mendasar pada pembayaran internasional.
Kenaikan emas belakangan turut membantu harga pulih setelah sempat mengalami penurunan tajam di awal bulan, yang menyeret harga turun dari rekor. Penguatan ini ditopang faktor-faktor jangka panjang yang mendukung komoditas tersebut—termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik serta kehati-hatian investor terhadap obligasi dan mata uang negara (sovereign bonds dan currencies).
“Ada cukup banyak faktor struktural yang mendukung emas dalam jangka menengah,” kata Vasu Menon, ahli strategi di Oversea-Chinese Banking Corp. “Namun dalam jangka pendek, perkirakan harga emas akan volatil setelah kenaikan tajam dalam beberapa bulan terakhir, mengingat perkembangan kebijakan dagang AS yang masih berjalan, serta situasi di Iran.”
Putusan Mahkamah Agung juga menimbulkan keraguan atas berbagai kesepakatan yang telah dinegosiasikan AS dengan mitra dagang besar. Uni Eropa disebut bersiap membekukan proses ratifikasi perjanjian dengan Washington sampai ada kejelasan lebih lanjut; pejabat India akan menunda kunjungan ke AS; sementara seorang anggota partai berkuasa Jepang menyebut situasinya “benar-benar berantakan.”
Di Timur Tengah, pelaku pasar memantau kebuntuan antara Washington dan Teheran. Meski kedua negara sedang berunding terkait potensi kesepakatan atas program nuklir Iran, AS telah mengerahkan kekuatan militer besar di kawasan, memicu kekhawatiran akan terjadinya serangan terbatas atau konflik berskala penuh.
Emas naik 0,9% menjadi US$5.152,06 per ons pada pukul 10.41 waktu London. Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,1%. Perak melonjak 2,7% ke US$86,96, sementara platinum dan palladium juga diperdagangkan menguat.
Ringkasnya:
Emas menguat setelah tiga pekan naik, di tengah ketidakpastian kebijakan dagang AS yang menekan dolar.
Dolar yang lebih lemah membuat emas lebih murah bagi banyak pembeli; harga sempat naik hingga 1,4% mendekati US$5.180 per ons.
Penguatan ditopang faktor jangka panjang seperti ketegangan geopolitik dan kehati-hatian investor terhadap obligasi serta mata uang negara.(yds)
Sumber: Bloomberg