Emas Tembus Lagi $5.000, Timur Tengah Jadi Pemicu
Emas menguat untuk hari ketiga beruntun dan kembali bergerak di atas $5.000 per ons, saat pelaku pasar menimbang risiko geopolitik yang meningkat di Timur Tengah. Dorongan utama datang dari naiknya permintaan aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian headline geopolitik.
Pasar mencermati pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memberi batas waktu 10–15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir. Tensinya ikut menjaga minat pada emas, meski pergerakan harian masih cenderung hati-hati karena investor juga menunggu data inflasi AS.
Di sisi lain, laju kenaikan emas tidak sepenuhnya mulus karena dolar AS menguat mendekati level tertinggi sekitar satu bulan. Penguatan dolar ini membuat emas lebih “mahal” bagi pembeli non-dolar dan berpotensi membatasi ruang naik, sehingga emas masih rawan tarik-ulur di area psikologis $5.000.
Fokus berikutnya tertuju pada rilis PCE (Personal Consumption Expenditures), indikator inflasi favorit The Fed. Data ini dianggap krusial karena bisa mengubah ekspektasi pasar terkait arah suku bunga—dan biasanya langsung berimbas ke dolar serta harga emas.
Dari sisi sentimen kebijakan, risalah rapat The Fed baru-baru ini menunjukkan sebagian pembuat kebijakan masih waspada terhadap inflasi, bahkan membuka ruang pengetatan bila tekanan harga bertahan. Itu sebabnya, meski emas menguat, pasar tetap selektif dan menunggu “konfirmasi” dari data inflasi sebelum menambah posisi besar.
Sementara dari sisi suplai, Newmont (produsen emas terbesar dunia) menyebut prospek produksi emas 2026 cenderung menurun dibanding 2025, seiring rencana pekerjaan tambang dan belanja modal untuk asetnya. Faktor suplai ini ikut jadi perhatian karena bisa menambah cerita bullish emas di tengah tingginya volatilitas pasar.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id