Minyak Tahan di Tempat, Iran Jadi Kunci
Harga minyak bergerak stabil di awal pekan, seiring pelaku pasar memantau risiko geopolitik menjelang dimulainya kembali pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran pada Selasa. Fokus utama pasar tertuju pada potensi eskalasi yang dapat memicu gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah.
Kontrak Brent diperdagangkan di bawah $68 per barel, setelah mencatat penurunan mingguan beruntun pertama tahun ini, sementara WTI bertahan di kisaran $63 per barel. Sentimen pasar ikut dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Jumat yang menyebut pergantian rezim sebagai hasil terbaik bagi Iran, sehingga meningkatkan tensi menjelang negosiasi di Jenewa.
Sepanjang tahun ini, minyak telah menguat lebih dari 11% karena meningkatnya ketegangan dengan Iran serta kekhawatiran gangguan pasokan di wilayah yang memasok sekitar sepertiga produksi minyak dunia menjadi faktor dominan. Namun, sebagian kenaikan tersebut mulai terkikis ketika risiko serangan dalam waktu dekat dianggap mereda, ditambah penyesuaian proyeksi pertumbuhan permintaan global oleh International Energy Agency (IEA) yang menambah kekhawatiran kelebihan pasokan.
Di sisi lain, pembicaraan yang dipimpin AS untuk mengakhiri perang di Ukraina juga dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Selasa. Meski demikian, peluang tercapainya kesepakatan cepat dinilai masih terbatas, sehingga prospek kembalinya pasokan Rusia ke pasar dalam skala besar belum menjadi skenario utama. Ketegangan tetap terlihat setelah serangan drone di pesisir Laut Hitam pada akhir pekan dilaporkan merusak infrastruktur di pelabuhan Taman serta tangki bahan bakar.
Dari kubu OPEC+, beberapa anggota menyatakan terdapat ruang untuk melanjutkan kembali peningkatan produksi pada April, dengan menilai kekhawatiran “glut” berlebihan. Meski begitu, kelompok tersebut belum mengambil keputusan final menjelang pertemuan 1 Maret, dan arah kebijakan disebut dapat bergantung pada apakah AS memilih jalur tindakan militer atau mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran.
Pada perdagangan awal di Asia, Brent untuk penyelesaian April tercatat stabil di sekitar $67,73 per barel (pukul 07:16 waktu Singapura), sedangkan WTI untuk pengiriman Maret bertahan di sekitar $62,83 per barel. Pasar AS tidak memiliki penyelesaian transaksi pada Senin karena libur President’s Day, sehingga pergerakan harga berpotensi lebih terbatas sampai aktivitas perdagangan kembali normal.(asd)
Sumber: Newsmaker.id