Bank Sentral Diprediksi Tambah Emas, Goldman Tetap Target Tinggi
Goldman Sachs memperkirakan bank sentral akan meningkatkan pembelian emas untuk cadangan devisa, yang dinilai dapat membantu pemulihan harga menjelang akhir tahun. Dalam catatan 15 Mei, Goldman memproyeksikan pembelian rata-rata 60 ton per bulan sepanjang tahun 2026, lebih tinggi dari estimasi rata-rata 12 bulan 50 ton pada Maret berdasarkan kerangka perhitungan yang diperbarui.
Menurut Goldman, minat bank sentral terhadap emas tetap kuat dan perkembangan geopolitik belakangan ini berpotensi memperkuat dorongan diversifikasi. Di sisi harga, emas masih kesulitan sejak pecahnya konflik Timur Tengah karena kenaikan biaya energi meningkatkan tekanan inflasi, mendorong pasar menilai ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi lebih sempit.
Kombinasi inflasi energi dan pasokan ikut memicu aksi jual di pasar obligasi global, meningkatkan imbal hasil dan menekan emas yang tidak memberikan imbal hasil. Dalam kerangka transmisi makro, hasil yang lebih tinggi cenderung memperkuat dolar dan meningkatkan “biaya peluang” memegang emas, sehingga menghambat pemulihan dalam jangka pendek.
Meski begitu, Goldman menilai dukungan dari pembelian sektor resmi bisa menjadi bantalan ketika minat investor swasta melemah. Mereka juga mengutip laporan World Gold Council yang mengisyaratkan pembelian bank sentral 244 ton pada kuartal I, naik dari 208 ton pada tiga bulan sebelumnya.
Di pasar, tempat penjualan emas sekitar US$4.530/ons pada Senin, jauh di bawah rekor mendekati US$5.600 pada akhir Januari. Goldman mempertahankan target US$5.400/ons pada akhir tahun, sejalan dengan pandangan bullish dari UBS dan ANZ, namun menekankan kehati-hatian dalam jangka dekat.
Risiko jangka pendek yang dikemukakan Goldman adalah emas dapat menjadi sumber likuiditas ketika investor membutuhkan kas, misalnya saat pasar saham terkoreksi di tengah suku bunga tinggi dan ekspektasi pertumbuhan melemah. Ke depan, pelaku pasar cenderung menyertakan tanda-tanda pembelian bank sentral, arah imbal hasil dan dolar, serta dinamika inflasi energi yang akan menentukan seberapa cepat emas dapat membangun kembali momentum.(asd)
Sumber: Newsmaker.id