Daly: AI dan Inflasi Jadi Dilema Baru The Fed
Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco, Mary Daly, mengatakan kebijakan moneter AS saat ini berada dalam kondisi sedikit restriktif. Namun, ia menilai arah langkah The Fed berikutnya masih belum jelas karena ekonomi AS sedang menghadapi sinyal yang saling bertentangan.
Daly mengatakan investasi di sektor teknologi berbasis artificial intelligence atau AI masih sangat kuat, sementara pasar tenaga kerja relatif stabil. Kondisi tersebut membuat The Fed belum bisa memastikan apakah perlu kembali menaikkan suku bunga, menahan lebih lama, atau menunggu data tambahan sebelum mengambil keputusan.
Menurut Daly, ada satu skenario ketika The Fed harus kembali melawan inflasi yang ternyata lebih persisten dari perkiraan. Namun, ada pula skenario lain ketika pertumbuhan ekonomi tidak mampu bertahan, atau investasi mulai melambat karena pelaku usaha belum melihat hasil nyata dari belanja besar yang sudah dilakukan.
Pernyataan Daly muncul setelah data tenaga kerja AS menunjukkan perlambatan tajam pada Juni. Nonfarm Payrolls hanya bertambah 57.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi pasar. Data tersebut membuat trader mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Juli dan September.
Meski data tenaga kerja melemah, Daly menilai penurunan harga minyak setelah gencatan senjata perang Iran menjadi kabar baik bagi ekonomi dan konsumen. Harga energi yang lebih rendah dapat membantu meredakan tekanan inflasi, terutama pada biaya transportasi dan daya beli rumah tangga.
Namun, Daly juga menekankan bahwa dampak AI terhadap ekonomi masih sangat tidak pasti. Investasi AI dalam jangka pendek dapat mendorong permintaan, tetapi dalam jangka panjang bisa meningkatkan produktivitas dan pasokan. Dua efek tersebut dapat memberi dampak yang berbeda terhadap inflasi.
Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya juga menegaskan bahwa bank sentral AS tidak akan mengecewakan pihak yang berharap The Fed tetap serius menekan inflasi. Inflasi Amerika Serikat telah bertahan di atas target 2% selama beberapa tahun, sehingga bank sentral tetap berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan.
Daly mengatakan ketidakpastian besar terkait AI membuatnya enggan mengambil keputusan suku bunga secara terburu-buru. Menurutnya, ketika dunia berubah sangat cepat, bank sentral perlu menilai situasi dengan hati-hati sebelum bertindak agar keputusan yang diambil lebih tepat.
Bagi pasar keuangan, komentar Daly memberi sinyal bahwa The Fed kemungkinan akan tetap sangat bergantung pada data. Jika inflasi kembali menguat, peluang kenaikan suku bunga dapat muncul lagi. Namun, jika pertumbuhan dan pasar tenaga kerja semakin melambat, The Fed memiliki alasan lebih besar untuk menahan kebijakan.
Secara keseluruhan, pernyataan Daly menunjukkan bahwa arah suku bunga AS belum berada di jalur yang pasti. The Fed masih harus menyeimbangkan risiko inflasi persisten, perlambatan tenaga kerja, penurunan harga minyak, dan dampak besar investasi AI terhadap ekonomi.(arl)
Sumber: Newsmaker.id