Fed Waspadai Tekanan Inflasi Baru
Sejumlah pejabat Federal Reserve memperingatkan bahwa meningkatnya risiko gangguan rantai pasok dapat membuat inflasi Amerika Serikat lebih sulit turun. Kekhawatiran ini muncul ketika konflik AS-Iran dan tekanan harga energi mulai dipandang sebagai faktor yang berpotensi menciptakan tekanan harga lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, menilai dampak konflik Iran terhadap ekonomi AS mulai terlihat seperti guncangan inflasi. Menurutnya, gangguan pasokan dan kenaikan harga yang berlangsung lama dapat menimbulkan kekhawatiran lebih dalam bagi bank sentral, terutama jika tekanan tersebut mulai menyebar ke biaya produksi dan distribusi.
Sementara itu, Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menyebut risiko kebijakan kini telah bergeser ke arah inflasi yang lebih tinggi. Artinya, The Fed perlu lebih berhati-hati sebelum membuka ruang pelonggaran moneter, karena inflasi yang belum sepenuhnya kembali ke target 2% masih berisiko bertahan lebih lama.
Kondisi ini membuat pasar kembali menimbang ulang ekspektasi terhadap arah suku bunga AS. Jika tekanan inflasi dari energi dan rantai pasok terus meningkat, peluang pemangkasan suku bunga bisa semakin tertunda. Bahkan, dalam skenario yang lebih agresif, pasar dapat kembali mempertimbangkan kemungkinan suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama.
Bagi pasar keuangan, pernyataan pejabat Fed ini menjadi sinyal penting. Dolar AS berpotensi mendapat dukungan jika investor kembali percaya bahwa The Fed belum akan cepat melonggarkan kebijakan. Sebaliknya, aset berisiko seperti saham dan mata uang komoditas bisa tertekan apabila kekhawatiran inflasi kembali mendominasi sentimen pasar.(CP)
Sumber: Newsmaker.id