Waller: Dampak Perang Iran ke Inflasi Diperkirakan Sementara
Gubernur Federal Reserve Christopher Waller mengatakan ia tidak memperkirakan perang Iran memicu tekanan inflasi yang berkelanjutan di AS, meski konsumen berpotensi menghadapi kejutan harga dari kenaikan bensin. Dalam wawancara Bloomberg TV pada Jumat, Waller menilai lonjakan energi akibat konflik cenderung bersifat sementara dan tidak akan menjadi penentu utama arah kebijakan moneter.
Waller menegaskan The Fed lebih menitikberatkan pembacaan inflasi inti sebagai indikator yang lebih baik untuk inflasi masa depan, ketimbang fluktuasi harga energi dan pangan. Karena itu, kenaikan energi yang bersifat episodik dinilai tidak otomatis mengubah prospek inflasi jangka menengah.
Di sisi kebijakan, Waller juga menyoroti preferensinya pada pertemuan Januari untuk memangkas suku bunga seperempat poin, dengan alasan masih ada tanda pelemahan pasar tenaga kerja. Namun, laporan ketenagakerjaan pemerintah untuk Januari kemudian tercatat jauh lebih kuat dari perkiraan, yang memperkuat argumen sebagian pejabat untuk bersikap lebih sabar.
Laporan pekerjaan Februari dijadwalkan rilis Jumat pukul 08:30 waktu Washington dan menjadi fokus utama pasar untuk menguji kekuatan tenaga kerja setelah rangkaian data aktivitas yang solid. Konsensus kebijakan saat ini mengarah pada The Fed mempertahankan suku bunga tetap pada pertemuan 17–18 Maret, seiring inflasi masih di atas target 2% dan pasar tenaga kerja menunjukkan tanda stabilisasi.
Di pasar, repricing ekspektasi suku bunga terlihat jelas. Swap suku bunga menunjukkan pelaku pasar kini memperkirakan sekitar 35 basis poin pemangkasan hingga akhir tahun, turun dari sekitar 60 basis poin pada akhir pekan lalu, menandakan ruang pelonggaran dipersempit di tengah kombinasi data yang masih kuat dan ketidakpastian geopolitik.(alg)
Sumber: Newsmaker.id