Minyak Turun Tajam, Harapan Deal AS–Iran Tekan Premi Risiko
Harga minyak turun tajam pada Jumat (12/6) setelah pasar semakin percaya bahwa kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran semakin dekat. Brent ditutup di US$87,33/barel, turun US$3,05 atau 3,37%, menjadi level terendah sejak awal Maret. Sementara itu, WTI turun US$2,83 atau 3,23% ke US$84,88/barel, level terendah sejak 17 April.
Tekanan pada harga muncul setelah sumber Barat menyebut memorandum untuk menghentikan perang di Teluk bisa ditandatangani paling cepat Minggu, dengan Jenewa menjadi lokasi yang paling mungkin. Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga membatalkan rencana serangan udara terhadap Iran, memperkuat ekspektasi bahwa jalur diplomasi mulai kembali mengambil alih sentimen pasar.
Namun, kesepakatan belum final. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan memorandum belum ditandatangani dan masih dapat berubah. Media Iran juga melaporkan negosiasi akhir akan berfokus pada isu nuklir dan ekonomi, sementara program rudal Iran tidak masuk dalam pembahasan. Pembicaraan nuklir disebut akan berlanjut dalam periode 60 hari setelah memorandum ditandatangani.
Penurunan minyak menunjukkan pasar mulai melepas premi risiko dari konflik Iran, terutama setelah kekhawatiran terhadap penutupan Selat Hormuz sempat mengangkat harga. Jalur ini penting karena biasanya membawa sekitar seperlima pengiriman minyak dan LNG global. Iran sempat menyatakan Hormuz tertutup penuh dan mengancam kapal yang mencoba melintas, tetapi militer AS menyebut kapal komersial masih tetap bergerak melalui jalur tersebut.
Meski harga turun, risiko pasokan belum sepenuhnya hilang. Stok minyak global dan regional masih rendah, sehingga pemulihan arus minyak tidak akan langsung normal walaupun kesepakatan tercapai. Pasar tetap perlu memastikan apakah pengiriman melalui Hormuz benar-benar kembali lancar dan apakah gangguan pasokan selama perang dapat dipulihkan tanpa hambatan baru.
Dari sisi fundamental jangka menengah, Goldman Sachs memangkas proyeksi rata-rata Brent 2027 menjadi US$80/barel karena ekspektasi pasokan lebih tinggi dan permintaan lebih rendah. OPEC juga menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia 2026 menjadi 970.000 barel per hari dari sebelumnya 1,17 juta barel per hari, meski memperkirakan permintaan kembali meningkat pada 2027. Untuk saat ini, arah minyak masih bergantung pada kepastian deal AS–Iran, status Hormuz, dan kondisi stok global.(arl)*
Sumber: Newsmaker.id