Shutdown Terlama Dalam Sejarah Modern AS: Trump Dorong Hapus Filibuster Demi Buka Pemerintahan
Pemerintahan Amerika Serikat memasuki hari ke-34 dalam kondisi shutdown, menjadikannya salah satu yang terpanjang dalam sejarah modern. Kebuntuan anggaran antara Partai Republik dan Demokrat belum menemukan titik temu, sementara dampaknya mulai meluas ke berbagai sektor perekonomian.
Menurut laporan Congressional Budget Office (CBO), penutupan pemerintahan ini berpotensi mengurangi produk domestik bruto (PDB) AS hingga US$14 miliar jika berlangsung hingga pertengahan November. Lembaga tersebut memperingatkan bahwa setiap pekan tambahan shutdown dapat menelan biaya miliaran dolar lagi, termasuk gaji tertunda bagi sekitar 2 juta pegawai federal.
Ekonomi Mulai Tertekan, Bantuan Sosial Tertunda
Efek domino mulai dirasakan masyarakat. Program bantuan pangan (SNAP) yang melayani jutaan warga berpenghasilan rendah diperkirakan akan mengalami penundaan distribusi mulai awal November.
“Jika pendanaan tidak segera disetujui, banyak keluarga akan kesulitan mengakses bantuan mereka bulan depan,” ujar pejabat Departemen Pertanian AS dikutip CBS News.
Selain itu, layanan pemerintahan non-esensial seperti riset ilmiah, izin perdagangan, hingga administrasi pajak ikut tertunda. Pasar keuangan pun menunjukkan volatilitas meningkat karena investor menilai risiko terhadap pertumbuhan ekonomi AS.
Apa Itu Filibuster, dan Mengapa Jadi Penghambat?
Kebuntuan politik di Senat sebagian besar disebabkan oleh aturan filibuster — mekanisme yang memungkinkan sedikitnya 41 dari 100 senator untuk memblokir atau menunda proses legislasi dengan memperpanjang debat.
Dalam praktiknya, aturan ini membuat setiap rancangan undang-undang membutuhkan 60 suara untuk bisa melanjutkan ke tahap pemungutan suara akhir (cloture).
Dengan kondisi saat ini, Partai Republik yang menguasai 53 kursi di Senat tidak bisa meloloskan RUU pendanaan tanpa dukungan minimal tujuh suara Demokrat. Hal inilah yang membuat upaya pembukaan kembali pemerintahan berlarut-larut.
Trump Desak Hapus Filibuster: “Ini Menghambat Rakyat!”
Presiden Donald Trump secara terbuka mendesak para senator Republik untuk menghapus aturan filibuster agar RUU pendanaan bisa disahkan dengan suara mayoritas sederhana (51 suara).
“Negara ini tidak bisa terus disandera oleh segelintir senator yang menolak bekerja sama. Filibuster sudah tidak relevan dan hanya menghambat rakyat Amerika,” tegas Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, dikutip The Guardian.
Trump berargumen bahwa penghapusan filibuster akan mempercepat penyelesaian kebuntuan politik dan memulihkan layanan publik lebih cepat. Ia menambahkan, “Jika kita ingin pemerintahan ini berjalan untuk rakyat, kita harus menghapus aturan yang membuatnya macet.”
Namun, tidak semua anggota Partai Republik setuju dengan langkah itu. Senator John Thune, salah satu pimpinan fraksi GOP, menilai penghapusan filibuster akan menjadi preseden berbahaya.
“Filibuster adalah bagian dari keseimbangan kekuasaan di Senat. Tanpanya, setiap mayoritas akan bisa memaksakan kehendaknya tanpa dialog bipartisan,” ujarnya dalam wawancara dengan Federal News Network.
Dampak Shutdown dan Risiko Politik
Menurut Reuters, hingga akhir Oktober setidaknya 850.000 pegawai federal telah dirumahkan sementara, dan ribuan kontraktor swasta kehilangan pendapatan.
Beberapa lembaga keuangan besar, termasuk Goldman Sachs dan Moody’s, telah memperingatkan risiko perlambatan ekonomi jika kebuntuan politik ini tidak berakhir sebelum pertengahan November.
Shutdown yang berkepanjangan juga menekan sentimen global, terutama karena dolar AS dan pasar Treasury — yang biasanya menjadi tolok ukur stabilitas — mulai menunjukkan volatilitas.
“Pasar kini mulai memperhitungkan risiko politik AS sebagai faktor ekonomi global, sesuatu yang jarang terjadi sebelumnya,” tulis The Guardian dalam laporannya.
Kesimpulan: Tekanan Politik dan Ekonomi Memuncak
Dengan belum adanya kompromi antara kedua kubu, shutdown federal AS masih berlanjut tanpa kepastian waktu berakhir. Usulan Trump untuk menghapus filibuster menjadi topik panas di Senat, tetapi penolakannya di internal partainya sendiri membuat langkah itu sulit terwujud dalam waktu dekat.
Sementara itu, jutaan warga AS terus menunggu gaji, bantuan, dan layanan dasar yang tertahan akibat kebuntuan politik di Washington.
Ekonom memperingatkan bahwa jika tidak segera diselesaikan, efek domino dari shutdown dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi AS dan memicu ketidakpastian global dalam beberapa bulan ke depan.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id