Iran dan Pakistan Diskusi Damai, Pasar Energi Tetap Tegang
Menteri Luar Negeri Iran bertemu dengan Menteri Dalam Negeri Pakistan pada Jumat (22/5) untuk membahas cara menjembatani perbedaan antara AS dan Tehran terkait proposal penyelesaian perang yang telah berlangsung lebih dari dua bulan, menurut laporan media Iran. Pertemuan ini terjadi dua hari setelah Pakistan menyampaikan pesan terbaru AS kepada Iran, dengan Islamabad berperan sebagai mediator utama sejak awal konflik yang menelan ribuan korban dan menekan ekonomi global.
Menteri Dalam Negeri Pakistan Syed Mohsin Naqvi berupaya merumuskan kerangka kerja untuk mengakhiri perang dan menyelesaikan perbedaan kedua pihak. Sekretaris Negara AS Marco Rubio menyebut ada “tanda baik” dalam diskusi, meski ia memperingatkan untuk tidak terlalu optimistis dan menunggu perkembangan beberapa hari ke depan.
Sumber senior Iran menyatakan kesenjangan dalam negosiasi telah menyempit, tetapi muncul isu baru ketika laporan Reuters menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memerintahkan agar uranium yang diperkaya tidak keluar dari negara tersebut, memperkuat sikap keras Tehran terhadap tuntutan utama Presiden Trump. Gedung Putih membantah laporan tersebut sebagai informasi yang salah.
Konflik telah masuk ke fase gencatan senjata yang lebih panjang daripada fase awal serangan sejak Februari. Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran memicu gelombang konflik di Timur Tengah, termasuk negara produsen energi utama di Teluk.
Selat Hormuz tetap hampir tertutup untuk lalu lintas kapal, sementara Trump menolak rencana Iran-Oman untuk sistem tol maritim, menjaga tekanan harga minyak tetap tinggi. Brent terakhir diperdagangkan di $105,75 per barel, jauh di atas level pra-perang sekitar $70. Dolar AS, sebagai safe-haven, juga menguat mendekati level tertinggi enam minggu.
Variabel yang perlu dipantau: kemajuan negosiasi AS-Iran, status Selat Hormuz, harga minyak global, dan pergerakan dolar AS. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id