Minyak Naik Lima Hari Beruntun, Trump Tingkatkan Tekanan Ekonomi terhadap Iran
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Kamis (20/8), memperpanjang reli menjadi lima hari berturut-turut setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan paket kebijakan baru yang ditujukan untuk meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Iran. Berdasarkan harga terbaru yang tersedia, Brent bergerak di sekitar US$91,87 per barel, sementara kontrak WTI Oktober berada di sekitar US$84,53 per barel. Brent sebelumnya ditutup di US$91,62, level tertinggi sejak 24 Juli.
Trump menyebut langkah tersebut sebagai bentuk “perang ekonomi dan isolasi” terhadap Iran. Washington memperingatkan negara maupun institusi yang membantu aktivitas ekonomi Iran dapat menghadapi konsekuensi ekonomi. Pemerintah AS juga mendorong pembatasan terhadap aktivitas seperti transfer dana, jaringan perdagangan, registrasi kapal, dan sejumlah jalur yang dinilai dapat membantu Iran mempertahankan akses terhadap sistem ekonomi internasional.
Kebijakan tersebut kembali meningkatkan perhatian pasar terhadap Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Konflik Washington dan Teheran telah membuat harga minyak mengalami kenaikan tajam sepanjang tahun karena pasar memasukkan premi risiko terhadap kemungkinan terganggunya pasokan dari kawasan Teluk. Hingga saat ini, kondisi Hormuz masih belum sepenuhnya normal, sementara jumlah kapal yang melewati kawasan tersebut tetap menjadi perhatian pelaku pasar.
Tekanan ekonomi AS terhadap Iran juga berpotensi memengaruhi negara-negara pembeli minyak Iran, terutama China. Sebagian minyak Iran diketahui masuk melalui jaringan perdagangan yang memanfaatkan diskon akibat sanksi AS. Strategi Washington belakangan bergeser dari tekanan militer menuju tekanan ekonomi yang lebih besar, dengan tujuan mendorong Teheran kembali ke meja perundingan sekaligus mengurangi pengaruh Iran terhadap jalur pelayaran di Hormuz.
Namun, reaksi harga minyak terhadap perkembangan geopolitik mulai lebih terbatas dibandingkan pada awal konflik. Pasar kini lebih memperhatikan kondisi pasokan fisik dibandingkan hanya merespons pernyataan politik. Data terbaru juga menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat 4,4 juta barel menjadi 428,8 juta barel, memberikan sedikit penyeimbang terhadap kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Meski demikian, risiko geopolitik tetap menjadi penopang utama harga minyak. Uni Emirat Arab sebelumnya menghentikan hubungan ekonomi dan finansial dengan Iran setelah menuduh Teheran melakukan serangan rudal ke wilayahnya. Dengan ketidakpastian di Hormuz yang masih tinggi dan tekanan ekonomi Washington terhadap Iran semakin agresif, pergerakan Brent masih berpotensi sensitif terhadap perkembangan arus kapal, ekspor minyak Iran, serta hubungan politik di kawasan Timur Tengah.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id