AS-Iran Makin Membara
Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Garda Revolusi Iran atau IRGC mengklaim menyerang sejumlah situs militer AS di Bahrain dan Kuwait. Serangan ini disebut sebagai balasan atas gelombang serangan militer AS terhadap target Iran, yang sebelumnya dilakukan setelah insiden kapal tanker di Selat Hormuz.
IRGC menyatakan melakukan operasi gabungan rudal dan drone terhadap fasilitas militer penting AS, termasuk wilayah Bandar Salman di Bahrain dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Iran juga mengklaim telah menembak jatuh drone MQ-9 milik AS yang disebut mencoba mengganggu operasi tersebut. Sirene serangan udara dilaporkan terdengar di Bahrain dan Kuwait, sementara militer Kuwait menyatakan pertahanan udaranya menghadapi serangan rudal dan drone.
Sebelumnya, Komando Pusat AS atau CENTCOM mengatakan telah menyerang lebih dari 60 kapal kecil milik IRGC dan sejumlah target militer Iran. Washington menyebut operasi itu sebagai respons terhadap serangan kapal komersial di Selat Hormuz yang dinilai melanggar gencatan senjata. NATO juga menyatakan serangan AS diperlukan karena Iran dianggap melanggar kesepakatan penghentian serangan.
Iran membalas dengan kecaman keras. Komando militer gabungan tertinggi Iran menyebut serangan AS sebagai tindakan agresi terang-terangan dan memperingatkan akan memberi respons yang menghancurkan. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, juga menuding AS melanggar gencatan senjata melalui serangan militer, sanksi minyak baru, dan campur tangan terhadap pengelolaan Selat Hormuz.
Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Harga minyak naik lebih dari 3% setelah AS mencabut izin yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak di pasar internasional. Pencabutan izin ini memberi tekanan besar terhadap kesepakatan damai sementara AS-Iran, karena pelonggaran ekspor minyak sebelumnya menjadi salah satu poin penting dalam kesepakatan. Jika konflik terus meluas, pasar global berisiko menghadapi lonjakan harga minyak, tekanan inflasi baru, dan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.(asd)
Source: Newsmaker.id