Diplomasi AS–China Menghangat, Negosiasi AS–China Mengarah ke Hormuz
Wakil Perdana Menteri China He Lifeng bertemu Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung di Seoul, menjelang pertemuan He dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Rangkaian pertemuan ini digelar untuk mematangkan agenda menuju KTT antara pemimpin dua ekonomi terbesar dunia, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Dalam pertemuan dengan He, Lee diperkirakan membahas berbagai isu, mulai dari persiapan KTT Trump–Xi hingga upaya menjaga stabilitas di Semenanjung Korea dan kawasan Asia. Momentum ini sekaligus menyorot strategi Seoul yang ingin tampil sebagai pemain konstruktif di tengah persaingan AS–China yang makin tajam.
Pada Rabu, negosiator AS dan China yang dipimpin He dan Bessent dijadwalkan meninjau perkembangan terbaru hubungan dagang bilateral, serta membahas topik termasuk perang Iran. Hasil pembicaraan tersebut akan menjadi pijakan bagi kunjungan Trump pada 13–15 Mei, yang disebut sebagai kunjungan pertama presiden AS ke Beijing dalam hampir satu dekade.
Di sisi energi, Gedung Putih meningkatkan tekanan agar China dan negara-negara lain yang masih bergantung pada impor minyak Iran membantu membuka kembali Selat Hormuz. AS juga mendorong China bergabung dalam operasi pengawalan kapal, di saat Washington menjatuhkan sanksi terhadap kilang China yang memproses minyak mentah Iran.
Konflik yang dimulai pada akhir Februari telah memicu krisis minyak dan menyorot kerentanan negara pengimpor energi seperti Korea Selatan, yang sebagian besar pasokannya, termasuk sekitar 70% impor minyak, melewati Selat Hormuz. Bagi Lee, hubungan dengan Beijing juga penting untuk mengelola dinamika Korea Utara, mengingat China masih menjadi penopang ekonomi utama Pyongyang saat AS dan sekutunya mempertahankan rezim sanksi.
Dalam beberapa bulan terakhir, intensitas diplomasi China–Korea Selatan juga meningkat. Lee tercatat mengunjungi Beijing pada Januari, setelah Xi melakukan kunjungan ke Korea Selatan pada akhir Oktober, seiring dorongan Seoul untuk memulihkan hubungan bilateral secara penuh.
Dari sisi pasar, jalur negosiasi AS–China yang membaik biasanya mengurangi premi risiko dan bisa menahan permintaan safe haven sehingga emas cenderung kehilangan sebagian dukungan jika sentimen risk-on menguat. Namun untuk minyak, fokus utama tetap pada risiko pasokan dan akses Hormuz: kemajuan diplomasi yang membuka jalur pelayaran berpotensi menurunkan premi risiko, sementara kebuntuan cenderung menjaga harga tetap tinggi. Untuk dolar AS, arah dapat bergantung pada kombinasi risk sentiment dan ekspektasi suku bunga: meredanya risiko geopolitik bisa melemahkan permintaan defensif dolar, tetapi dolar tetap sensitif pada jalur inflasi dan yield yang dipengaruhi harga energi.(asd)
Sumber: Newsmaker.id