Trump Temui Xi di Beijing, Agenda Iran dan Dagang Dominan
Presiden AS Donald Trump akan bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping pada Kamis pagi di Beijing, menurut pernyataan Gedung Putih. Pertemuan ini dianggap berisiko tinggi karena akan didominasi pembahasan perdagangan dan perang Iran, di tengah ketegangan geopolitik yang masih membayangi pasar global.
Kunjungan ini menjadi undang-undang pertama presiden AS ke Tiongkok dalam hampir satu dekade. Pertemuan terjadi saat dua ekonomi terbesar dunia menangani sejumlah isu bilateral, sementara konflik di Timur Tengah menambah tekanan pada hubungan Washington–Beijing.
Dalam agenda terkait Iran, Trump disebut akan menekan Xi terkait pendekatan Tiongkok terhadap Teheran, termasuk isu pendapatan Iran dan dugaan potensi ekspor senjata. AS juga telah menjatuhkan sanksi kepada sejumlah perusahaan Tiongkok yang menyatakan membeli minyak Iran, sebagai bagian dari upaya menekan Teheran untuk mengakhiri perang yang dimulai pada akhir Februari.
Trump juga menyatakan akan membahas penjualan senjata AS ke Taiwan, isu sensitif bagi Beijing. Ia mengatakan Xi meminta AS berhati-hati soal penjualan tersebut, setelah AS pada Desember menyetujui paket penjualan senjata senilai US$11 miliar untuk Taiwan. Trump menegaskan ia tetap akan mengangkat topik tersebut dalam pertemuan tersebut.
Isu lain yang akan dibawakan Trump adalah kasus pebisnis Hong Kong Jimmy Lai. Lai, pendiri surat kabar Apple Daily yang kini sudah ditutup, dijatuhi hukuman 20 tahun penjara pada bulan Februari atas tuduhan kolusi dan penghasutan berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional Beijing. Trump menyebut dirinya ingin melihat Lai dibebaskan dan akan kembali mengangkat kasus itu.
Pertemuan berlangsung dalam latar yang menegangkan karena Trump juga mengancam gencatan senjata AS–Iran berada di “massive life support” setelah ia menolak tawaran damai terbaru Iran. Narasi penutupan Selat Hormuz dalam bahan ini menambah kekhawatiran krisis energi global karena negara-negara Teluk termasuk kesulitan mengekspor minyak dan gas, sementara China sebagai importir besar berupaya mencegah kelangkaan domestik. Dalam konteks pasar, eskalasi risiko seperti ini cenderung menopang minyak karena premi risiko pasokan, mendukung dolar lewat permintaan aset aman dan kekhawatiran inflasi yang menahan ekspektasi pelonggaran suku bunga, sementara emas biasanya mendapat dukungan sebagai melindungi nilai geopolitik dan inflasi, meskipun kenaikannya bisa tertahan jika penguatan dolar ikut dominan.(asd)
Sumber: Newsmaker.id