Ekonomi Inggris Tahan Banting, Pertumbuhan Mulai Terlihat
Sektor swasta Inggris menunjukkan pemulihan yang lebih kuat pada Agustus 2026 setelah aktivitas bisnis meningkat ke level tertinggi dalam empat bulan. Data S&P Global Purchasing Managers’ Index (PMI) naik menjadi 52,5, dari 52,2 pada Juli dan melampaui perkiraan ekonom sebesar 51,6. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas ekonomi masih berada dalam fase ekspansi.
Kinerja tersebut menunjukkan ekonomi Inggris masih mampu bertahan di tengah tekanan harga energi yang meningkat dan ketidakpastian kebijakan pemerintah baru. Sektor jasa menjadi pendorong utama pertumbuhan, dengan aktivitas meningkat ke level tercepat dalam enam bulan seiring meningkatnya belanja rumah tangga dan investasi teknologi.
Ekonom S&P Global memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi Inggris pada kuartal ketiga dapat mencapai sekitar 0,3%, lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebelumnya sebesar 0,1%. Momentum tersebut menjadi kabar positif bagi Perdana Menteri Andy Burnham dan Menteri Keuangan John Healey menjelang penyusunan anggaran pertama pemerintah pada musim gugur.
Namun, tidak semua sektor menunjukkan penguatan. Aktivitas manufaktur mengalami pelemahan ke level terendah dalam lima bulan akibat tekanan biaya dan ketidakpastian global. Selain itu, tekanan inflasi kembali meningkat setelah harga minyak naik di atas US$90 per barel, membuat perusahaan mulai meneruskan kenaikan biaya bahan bakar kepada konsumen.
Pasar tenaga kerja juga masih menjadi perhatian. Tingkat perekrutan mengalami penurunan selama 23 bulan berturut-turut, menjadi periode pelemahan lapangan kerja terpanjang sejak pencatatan dimulai pada 1996. Meski demikian, penurunan jumlah pekerja merupakan yang terkecil sejak Oktober tahun lalu.
Analisis Newsmaker: data PMI Inggris memberikan sentimen positif bagi poundsterling karena menunjukkan ekonomi masih ekspansif meski menghadapi tekanan inflasi. Namun, kenaikan biaya energi akibat konflik Timur Tengah dapat menjadi tantangan bagi Bank of England (BoE). Jika inflasi kembali meningkat, ruang pemangkasan suku bunga akan semakin terbatas, yang berpotensi menopang GBP dalam jangka pendek. (arl)
Sumber: Newsmaker.id