Ekonomi Inggris Tertekan Setelah Starmer Mundur
Ekonomi Inggris kembali menunjukkan sinyal pelemahan pada Juni 2026, setelah survei sektor swasta memperlihatkan aktivitas bisnis menyusut untuk bulan kedua berturut-turut. Indeks purchasing managers’ index atau PMI dari S&P Global yang dirilis pada Selasa (23/6) turun ke level 49,4 dalam estimasi awal, lebih rendah dari 49,7 pada Mei. Angka di bawah 50 menandakan kontraksi, sehingga data ini memberi gambaran bahwa ekonomi Inggris sedang kehilangan tenaga setelah sempat tumbuh kuat pada awal tahun.
Pelemahan ini memperkuat kekhawatiran bahwa output ekonomi Inggris pada kuartal II 2026 berpotensi stagnan. Kondisi tersebut menjadi kemunduran setelah Inggris sebelumnya mencatat pertumbuhan tercepat di antara negara-negara G7 pada kuartal pertama. Namun, momentum itu terlihat sulit dipertahankan karena dunia usaha mulai menahan ekspansi, permintaan melemah, dan tekanan geopolitik dari konflik Timur Tengah masih membebani biaya operasional.
Pasar tenaga kerja juga menjadi perhatian besar. Sub-indeks ketenagakerjaan dalam survei S&P masih berada di zona negatif dan telah melemah selama 21 bulan berturut-turut. Pada Juni, indeks tersebut turun ke 46,8 dari 47,1 pada bulan sebelumnya. Artinya, semakin banyak perusahaan yang mengurangi jumlah pekerja atau menunda perekrutan baru. Kondisi ini menjadi tantangan tambahan bagi Partai Buruh yang sebelumnya menjanjikan pertumbuhan ekonomi dan perbaikan kesejahteraan saat memenangkan pemilu 2024.
Situasi ekonomi yang melemah datang di tengah perubahan politik besar di Inggris. Perdana Menteri Keir Starmer telah mengumumkan pengunduran dirinya, sehingga pemerintah akan mencoba membangun kembali kepercayaan pasar di bawah pemimpin baru. Namun, tugas tersebut tidak mudah karena calon pemimpin berikutnya harus menghadapi kombinasi pertumbuhan yang lambat, meningkatnya pengangguran, ruang fiskal yang terbatas, serta tekanan inflasi yang belum sepenuhnya hilang.
Meski biaya input dan harga jual masih naik, laju kenaikannya mulai mereda. S&P Global menilai sebagian tekanan harga akibat perang mulai berkurang. Namun, lemahnya pertumbuhan dan pasar tenaga kerja menunjukkan bahwa permintaan domestik masih rapuh. Jika kondisi ini berlanjut, Bank of England berpotensi menghadapi dilema: menjaga inflasi tetap terkendali, tetapi di saat yang sama tidak menekan ekonomi terlalu dalam. Untuk saat ini, data PMI terbaru memberi sinyal bahwa ekonomi Inggris sedang masuk fase yang lebih berat dan membutuhkan stabilitas politik serta kebijakan ekonomi yang lebih jelas.(arl)
Sumber : Newsmaker.id