Minyak Turun Pasca AS Izinkan Penjualan Minyak Iran
Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (22/6/2026), setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat memberikan izin sementara untuk penjualan minyak mentah Iran. Kebijakan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global dan memperkuat harapan bahwa aliran minyak dari kawasan Timur Tengah dapat kembali pulih.
Brent crude futures sebagai patokan internasional turun 3,3% dan ditutup di level US$77,90 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI melemah 2,3% ke level US$74,82 per barel. Penurunan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang tambahan pasokan dari Iran setelah adanya perkembangan positif dalam pembicaraan damai dengan Amerika Serikat.
Departemen Keuangan AS menerbitkan lisensi selama 60 hari yang mengizinkan produksi, pengiriman, dan penjualan minyak Iran. Izin tersebut juga mencakup produk minyak bumi dan petrokimia, serta memungkinkan transaksi pendukung seperti pembayaran, perbankan, asuransi, dan transportasi. Kebijakan ini berlaku hingga 21 Agustus 2026 dan menjadi bagian dari upaya Washington untuk menjaga momentum negosiasi damai dengan Tehran.
Sentimen pasar semakin membaik setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss mencatat kemajuan besar. Mediator Qatar dan Pakistan juga menyebut kedua pihak telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari ke depan. Selain itu, negosiasi teknis akan berlanjut sepanjang pekan ini, dengan pembentukan komite tingkat tinggi untuk mengawasi proses mediasi.
Meski demikian, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Presiden AS Donald Trump sebelumnya kembali mengancam tindakan militer terhadap Iran, sehingga menimbulkan keraguan terhadap ketahanan kesepakatan sementara yang baru dicapai. Di saat yang sama, pertemuan di Swiss juga dibayangi pernyataan Tehran yang kembali mengklaim telah menutup Selat Hormuz, salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia.
Bagi pasar energi, keputusan AS memberi ruang bagi minyak Iran untuk kembali masuk ke pasar global secara lebih terbuka. Jika pasokan tambahan ini benar-benar terealisasi, tekanan terhadap harga minyak berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Namun, investor tetap perlu mencermati keamanan Selat Hormuz, kelanjutan pembicaraan teknis AS-Iran, dan respons negara-negara produsen minyak lainnya.
Dengan kondisi tersebut, harga minyak masih berpotensi bergerak volatil. Sentimen jangka pendek saat ini cenderung menekan harga karena pasar melihat peluang pemulihan pasokan. Namun, apabila negosiasi kembali terganggu atau situasi di Selat Hormuz memburuk, Brent dan WTI dapat kembali mendapat dorongan naik dari kekhawatiran gangguan distribusi energi global.(yds)
Sumber: Newsmaker.id