Hormuz Aman, Minyak Tertekan
Harga minyak kembali melemah pada perdagangan Selasa (23/6), seiring pelaku pasar mencermati tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan damai untuk mengakhiri perang Iran. Brent crude bergerak turun ke sekitar US$77 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI berada di kisaran US$73 per barel. Tekanan juga datang dari pelemahan pasar saham global yang membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.
Sentimen utama yang menekan harga minyak berasal dari keputusan Amerika Serikat menerbitkan lisensi sementara selama 60 hari yang mengizinkan sebagian penjualan minyak dan produk petroleum Iran. Kebijakan ini muncul setelah pembicaraan antara Washington dan Tehran di Swiss disebut produktif. Bagi Iran, izin tersebut menjadi ruang ekonomi penting, sementara bagi pasar global, kebijakan ini membuka peluang tambahan pasokan minyak ke pasar internasional.
Meski begitu, proses damai masih belum sepenuhnya jelas. Pejabat AS dan Iran sama-sama menyebut adanya kemajuan dalam putaran pertama pembicaraan, tetapi beberapa perbedaan klaim mulai muncul. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Iran telah setuju menerima inspektur nuklir, namun klaim tersebut dibantah oleh Tehran. Situasi ini menunjukkan bahwa negosiasi masih panjang, terutama terkait isu nuklir, pencabutan sanksi, dan mekanisme keamanan kawasan.
Pasar juga masih memperhatikan perkembangan Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas dunia. Sebelumnya, hampir tertutupnya jalur ini sempat menekan pasokan energi dan mengguncang pasar global. Kini, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat karena pasokan dari Teluk Persia meningkat, dengan beberapa negara produsen seperti Kuwait dan Uni Emirat Arab mencari jalur untuk tetap mengirim energi keluar dari kawasan. Iran juga dilaporkan telah mengirim lebih dari 30 juta barel minyak dalam sepekan terakhir.
Namun, analis memperingatkan bahwa pasar bisa terlalu cepat memperhitungkan tambahan pasokan sebelum benar-benar terjadi. Jika negosiasi damai terus berjalan dan Selat Hormuz kembali aman, harga minyak berpotensi tetap tertekan. Tetapi jika pembicaraan kembali buntu, isu nuklir memanas, atau jalur Hormuz kembali terganggu, minyak bisa kembali berbalik naik. Untuk saat ini, arah minyak masih rapuh karena pasar berada di antara harapan damai dan risiko geopolitik yang belum sepenuhnya selesai.(arl)
Sumber : Newsmaker.id