Alarm Tenaga Kerja AS: JOLTS Anjlok, Risiko Perlambatan Naik
Lowongan kerja di Amerika Serikat turun tajam pada Desember dan menyentuh level terendah sejak 2020—tanda bahwa permintaan tenaga kerja mulai melemah lebih cepat dari dugaan pasar. Data ini datang dari laporan JOLTS (Job Openings and Labor Turnover Survey) milik Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) pada hari Kamis (5/2), yang sering dipakai pelaku pasar untuk membaca “suhu” pasar kerja.
Jumlah posisi yang tersedia turun ke 6,54 juta, dari angka November yang direvisi turun menjadi 6,93 juta. Yang bikin sorotan: angka terbaru ini berada di bawah seluruh perkiraan dalam survei ekonom—alias pasar “kecolongan” karena pelemahannya lebih dalam dari ekspektasi.
Buat market, penurunan job openings biasanya dibaca sebagai sinyal perusahaan makin hati-hati buka rekrutmen baru. Artinya, tenaga kerja bisa pelan-pelan kehilangan daya tawar, dan tekanan upah berpotensi melunak—ini salah satu jalur yang bisa bantu inflasi turun.
Di saat yang sama, laporan ini juga menyebut PHK sedikit meningkat. Meski belum berarti gelombang PHK besar, kombinasi “lowongan menyusut + PHK naik tipis” sering dianggap sebagai paket sinyal bahwa pasar kerja mulai masuk fase cooling, bukan lagi super ketat.
Implikasinya ke pasar keuangan: kalau rangkaian data tenaga kerja makin lemah, ekspektasi penurunan suku bunga bisa hidup lagi, karena The Fed akan lebih punya alasan untuk melonggarkan kebijakan saat risiko perlambatan ekonomi naik. Sebaliknya, kalau data lain masih kuat, market bisa tetap volatile karena narasinya tarik-menarik. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id