Ancaman Trump vs Penolakan Iran, Emas Terjun Bebas
Emas turun tajam pada Selasa (21/4), mencatat penurunan terbesar dalam lebih dari dua pekan, saat pasar menunggu kepastian apakah Iran akan bergabung dalam pembicaraan damai dengan AS sebelum gencatan senjata berakhir pekan ini. Harga bullion sempat jatuh hingga 2,6% setelah laporan menyebut perjalanan Wakil Presiden JD Vance ke Islamabad ditahan karena Teheran belum merespons posisi negosiasi AS. Penguatan dolar dan kenaikan yield Treasury ikut menekan emas, mengingat logam mulia dihargai dalam dolar dan tidak memberikan imbal hasil.
Ketegangan diplomatik juga meningkat lewat pernyataan kedua pihak. Presiden Donald Trump mengatakan Iran “tidak punya pilihan” selain mengirim delegasi ke Pakistan dan AS siap melanjutkan pengeboman jika tidak ada terobosan. Dari Teheran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan Iran tidak akan “bernegosiasi di bawah bayang-bayang ancaman.” Kebuntuan ini memperbesar risiko krisis energi berlanjut karena arus kapal di Selat Hormuz masih nyaris berhenti, di tengah sengketa yang lebih luas soal program nuklir Iran dan operasi militer Israel di Lebanon.
Emas juga terbebani dari sisi kebijakan setelah calon Ketua The Fed Kevin Warsh menyerukan kerangka baru untuk menghadapi inflasi persisten, tanpa memberi detail. Pasar menilai Warsh cenderung hawkish terhadap inflasi, sehingga peluang pemangkasan agresif seperti yang diinginkan Trump kecil dan jalur penurunan suku bunga berpotensi lebih bertahap. Kombinasi ketidakpastian geopolitik dan outlook kebijakan yang belum jelas membuat posisi emas rentan terhadap reposisi dan deleveraging.
Pada 14:36 waktu New York, spot gold turun 2,5% ke US$4.701,49/oz. Perak turun 4,1% ke US$76,49/oz, sementara platinum dan palladium ikut melemah. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,3%, menegaskan tekanan tambahan dari sisi mata uang.(Arl)*
Sumber: Newsmaker.id