Data AS Kuat Tekan Emas, Hormuz Masih Panas
Emas (XAU/USD) bergerak dengan bias negatif pada Selasa (21/4) dan masih minim arah, karena pasar menahan posisi agresif di tengah ketidakpastian apakah pembicaraan damai AS–Iran akan berlanjut setelah tensi di Selat Hormuz kembali meningkat akhir pekan lalu. XAU/USD diperdagangkan di sekitar US$4.748, turun hampir 1,5% pada hari itu, tertekan oleh penguatan moderat dolar AS.
Tekanan juga datang dari data AS yang lebih kuat dari perkiraan. Retail Sales Maret naik 1,7% (MoM), melampaui estimasi 1,4% dan menguat dari 0,7% pada Februari. Rata-rata 4 pekan ADP Employment Change juga naik menjadi 54,8 ribu dari 39 ribu. Data yang solid membuat ruang pelemahan dolar lebih terbatas dan menekan logam mulia.
Di sisi geopolitik, prospek putaran kedua pembicaraan AS–Iran di Pakistan masih abu-abu. Sejumlah laporan menyebut Iran mengirim delegasi, namun media pemerintah Iran membantah ada delegasi yang sudah berangkat. Dengan ceasefire dua pekan berakhir Rabu, pasar makin sensitif. Trump mengatakan kecil kemungkinan memperpanjang gencatan senjata dan menegaskan Hormuz tidak akan dibuka sebelum ada kesepakatan, sambil memperingatkan konflik bisa lanjut jika tidak ada deal. Dari Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan Iran tidak akan bernegosiasi “di bawah bayang-bayang ancaman” dan menyiapkan “kartu baru” di medan konflik.
Sementara itu, gangguan Hormuz di bawah “blokade ganda” AS dan Iran menjaga harga minyak tetap tinggi, mempertahankan risiko inflasi dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama dari bank sentral, termasuk The Fed. Kondisi ini biasanya membebani emas karena biaya peluang memegang aset non-yielding meningkat saat yield dan ekspektasi kebijakan ketat menguat—meski risiko geopolitik tetap memberi bantalan sehingga pergerakan cenderung range-bound.
Pelaku pasar kini menunggu katalis dari perkembangan negosiasi AS–Iran dan keputusan soal perpanjangan ceasefire, serta arah dolar, minyak, dan sinyal kebijakan The Fed—termasuk pernyataan Kevin Warsh yang menilai The Fed perlu “kerangka inflasi baru” dan perubahan rezim kebijakan.(Arl)*
Sumber : Newsmaker.id