
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Nikkei 225 menutup perdagangan Kamis (10/9) dengan pelemahan sekitar 1% ke bawah level 64.600, memperpanjang penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut. Indeks Topix juga melemah sekitar 0,65% ke kisaran 4.020, seiring investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di tengah kenaikan harga energi dan yield obligasi global.
Tekanan utama datang dari harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel akibat konflik AS–Iran dan gangguan pelayaran di Timur Tengah. Lonjakan energi meningkatkan kekhawatiran inflasi sekaligus memperbesar risiko biaya produksi bagi perusahaan Jepang yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas.
Sentimen pasar juga terbebani kenaikan yield Treasury AS. Yield 10 tahun bertahan di sekitar 4,84% setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak 2023, sementara rencana buyback Treasury AS hingga US$6 miliar dinilai belum cukup besar untuk menenangkan pasar obligasi. Pelemahan Wall Street pada sesi sebelumnya turut menekan perdagangan saham Asia.
Di dalam negeri, investor semakin memperhitungkan kemungkinan Bank of Japan kembali menaikkan suku bunga. Anggota Dewan BOJ Kazuyuki Masu mengatakan bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga lebih cepat apabila tekanan inflasi meningkat. Ekspektasi kebijakan yang lebih ketat turut menopang yen, tetapi menjadi tekanan bagi saham eksportir dan perusahaan dengan pendapatan besar dari luar negeri.
Saham teknologi dan konsumsi menjadi beberapa penekan terbesar, dengan Fujikura turun 4,4%, Furukawa Electric melemah 4,9%, Ibiden kehilangan 3,1%, Nintendo turun 3,8%, dan Fast Retailing melemah 1,5%. Analisa Newsmaker: kombinasi minyak di atas US$100, yield global tinggi, yen yang kuat, serta ekspektasi kenaikan bunga BOJ masih membuat prospek Nikkei rentan dalam jangka pendek.