
Trending

gbpusd
Sumber: Newsmaker.id
Pound sterling bergerak nyaris datar pada perdagangan Jumat (11/9), meskipun data pertumbuhan ekonomi Inggris lebih kuat dari perkiraan. GBP/USD turun tipis sekitar 0,06% ke 1,3504, sementara EUR/USD melemah 0,09% menjadi 1,1599 karena investor bersiap menghadapi data inflasi Amerika Serikat.
Dolar kembali mendapat dukungan dari kenaikan yield Treasury jangka panjang. Pasar menilai hubungan positif antara dolar dan yield mulai pulih setelah operasi buyback Treasury AS yang lebih kecil dari ekspektasi gagal meredam tekanan di pasar obligasi. Kondisi tersebut membuat target Dollar Index di area 100 kembali dinilai realistis.
Lonjakan harga minyak sekitar 15% sejak ketegangan di kawasan Teluk meningkat juga memicu pergeseran defensif menuju dolar. Investor memperkirakan data CPI AS sebesar 0,4% secara bulanan untuk headline dan 0,2% untuk core, yang dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pekan depan.
Di Inggris, GDP tumbuh 0,4% pada Juli, melampaui perkiraan dan lebih tinggi dari kenaikan 0,3% pada Juni. Meski demikian, data tersebut belum cukup mendorong sterling karena pasar lebih fokus pada kenaikan yield global dan ekspektasi kebijakan moneter AS. Yield gilt Inggris tenor 10 tahun mendekati 5,5%, sementara tenor 30 tahun bergerak dekat 6%.
Bank of England diperkirakan mempertahankan suku bunga di 3,75% pada pertemuan berikutnya. Namun, sebagian anggota diperkirakan masih mendukung kenaikan bunga, meski ekspektasi pasar terhadap hampir empat kali kenaikan bunga hingga tahun depan dinilai terlalu agresif.
Euro juga mendapat sedikit dukungan dari sikap hawkish ECB setelah bank sentral menaikkan suku bunga dan membuka peluang pengetatan tambahan. Namun, risiko penurunan EUR/USD tetap ada jika CPI AS kembali panas dan memperkuat ekspektasi kenaikan bunga Federal Reserve.
Analisa Newsmaker: sterling masih belum mampu memanfaatkan data GDP Inggris yang kuat karena sentimen global lebih banyak dikendalikan oleh dolar, yield Treasury, dan ekspektasi The Fed. CPI AS menjadi katalis utama berikutnya. Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, DXY berpotensi semakin mendekati 100, sementara GBP/USD dan EUR/USD berisiko kembali tertekan.(arl)
Sumber: Newsmaker.id