
Trending

hong-kong
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Hang Seng ditutup melemah tajam pada perdagangan Kamis (10/9), turun sekitar 1,3% atau 320 poin menjadi 24.954. Pelemahan membawa indeks kembali ke bawah level psikologis 25.000 seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap konflik Timur Tengah dan lonjakan harga energi.
Brent bertahan di atas US$100 per barel setelah Iran menyatakan siap menghadapi konflik yang lebih intens. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz sekaligus memperbesar risiko inflasi global.
Tekanan juga datang dari pasar obligasi Amerika Serikat. Yield Treasury 10 tahun bergerak di sekitar 4,86%, level tertinggi sejak November 2023. Tingginya yield dan pelemahan Wall Street selama tiga sesi berturut-turut ikut menekan selera risiko investor di pasar Hong Kong.
Saham teknologi menjadi salah satu penekan terbesar. Tencent turun 1,7%, SMIC melemah 2,3%, dan Xiaomi kehilangan 1,6%. Tekanan jauh lebih tajam terjadi pada saham terkait kecerdasan buatan, dengan Z.AI anjlok 10,8% dan MiniMax merosot 9%.
Meski demikian, sektor teknologi Hong Kong tetap menarik perhatian dalam jangka menengah karena aktivitas penawaran saham perdana masih kuat. Startup AI Moonshot dilaporkan telah mengajukan pencatatan saham secara rahasia di Hong Kong, sementara DeepSeek tengah mempersiapkan kemungkinan IPO domestik.
Investor selanjutnya menunggu data inflasi Amerika Serikat yang dapat menentukan arah kebijakan Federal Reserve. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi mempertahankan yield Treasury pada level tinggi dan memperpanjang tekanan terhadap saham teknologi serta aset berisiko.
Analisa Newsmaker: penutupan Hang Seng di bawah 25.000 menunjukkan tekanan jual masih dominan. Kombinasi harga minyak di atas US$100, yield AS yang tinggi, dan pelemahan tajam saham AI menjadi hambatan utama. Sentimen berpotensi tetap defensif selama risiko geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi belum mereda. (arl)
Sumber : Newsmaker.id