
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Jumat (18/9) setelah China mendorong Iran untuk membatasi serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi. Harga Brent crude futures ditutup di level US$104,87 per barel, turun US$0,95 atau 0,93%, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) berakhir di US$100,30 per barel, melemah US$1,61 atau 1,58%. Penurunan ini terjadi setelah pasar mulai melihat adanya peluang meredanya tekanan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak telah mengalami kenaikan signifikan akibat meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya aktivitas militer kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran. Ketegangan tersebut meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur energi utama, terutama setelah serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi mengancam salah satu rute ekspor penting kawasan tersebut.
Intervensi diplomatik China memberikan sedikit tekanan turun terhadap harga minyak karena investor berharap ketegangan dapat dikendalikan. Namun, kondisi pasar energi masih menghadapi tantangan besar. Gangguan pada kapasitas penyulingan global turut mendorong kenaikan harga produk energi, terutama diesel. Di Amerika Serikat, harga diesel ritel telah mencapai rekor sekitar US$6,45 per galon, sementara harga bensin berada di sekitar US$4,47 per galon.
Selain risiko geopolitik, pasar juga menghadapi masalah kapasitas produksi dan distribusi. Data dari IIR Energy menunjukkan kapasitas operasi kilang AS diperkirakan turun sekitar 371.000 barel per hari pada pekan depan. Kondisi tersebut membuat tekanan harga energi tidak hanya berasal dari pasokan minyak mentah, tetapi juga keterbatasan pengolahan menjadi produk bahan bakar.
Meski harga minyak mulai turun dari level tertinggi hampir empat bulan, ketidakpastian masih membayangi pasar. Jalur Selat Hormuz masih mengalami pembatasan aktivitas pelayaran, sementara kerusakan pada pipa East-West Arab Saudi belum sepenuhnya pulih. Arab Saudi berupaya mengembalikan sekitar setengah kapasitas pipa tersebut dalam beberapa hari, tetapi waktu pemulihan penuh masih belum jelas.
Analisis Newsmaker: Pelemahan minyak akhir pekan ini lebih mencerminkan berkurangnya tekanan risiko jangka pendek, bukan berakhirnya masalah pasokan. Diplomasi China terhadap Iran memberikan harapan stabilisasi, tetapi konflik Timur Tengah dan kondisi jalur energi utama masih menjadi faktor penggerak utama. Selama risiko gangguan di Selat Hormuz dan infrastruktur Saudi belum sepenuhnya pulih, harga minyak masih berpotensi bergerak volatil di atas level psikologis US$100 per barel.
Sumber: Newsmaker.id