
Trending

gbpusd
Sumber: Newsmaker.id
Pound Sterling kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis (27/8), memperpanjang tekanan selama dua hari berturut-turut. GBP/USD turun sekitar 0,05% ke 1,3588, setelah sempat menyentuh area 1,3600. Penguatan dolar menjadi faktor utama setelah data ekonomi AS menunjukkan pasar tenaga kerja masih cukup solid.
Data Initial Jobless Claims untuk pekan yang berakhir 22 Agustus turun menjadi 203 ribu, lebih rendah dari perkiraan 208 ribu. Angka tersebut menunjukkan tingkat PHK masih rendah dan memberi sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS belum menunjukkan pelemahan tajam.
Sementara itu, defisit perdagangan barang AS melebar menjadi US$118,8 miliar pada Juli dari US$102,1 miliar pada bulan sebelumnya. Meski defisit meningkat, pasar lebih banyak merespons kekuatan data tenaga kerja dan inflasi sebelumnya, sehingga Dollar Index bertahan di sekitar 99,14.
Tekanan terhadap sterling semakin kuat setelah sejumlah pejabat Fed memberikan komentar hawkish di Jackson Hole. Presiden Fed Kansas City Jeffrey Schmid menyebut inflasi masih “stubborn” dan “sticky”, sementara Austan Goolsbee mengatakan inflasi tetap menjadi perhatian utama. Beth Hammack dari Cleveland Fed bahkan menilai sekarang adalah waktu untuk bertindak karena tekanan harga masih persisten.
Komentar tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk mengetatkan kebijakan lebih lanjut. Dengan agenda ekonomi Inggris yang relatif sepi, pergerakan pound saat ini lebih banyak ditentukan oleh kekuatan dolar dan perubahan ekspektasi suku bunga AS.
Analisis Newsmaker: GBP/USD saat ini memiliki bias bearish jangka pendek selama dolar tetap ditopang data ekonomi kuat dan komentar hawkish pejabat Fed. Area 1,3600 menjadi resistance awal, sementara pelemahan lebih lanjut berpotensi membawa pasangan ini menguji area 1,3550–1,3500. Fokus berikutnya tertuju pada pidato Kevin Warsh di Jackson Hole, yang dapat menentukan apakah tekanan terhadap pound berlanjut atau mulai mereda.(arl)
Sumber: Newsmaker.id