
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (18/9), melanjutkan penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan dan meningkatnya perhatian pasar terhadap perkembangan diplomasi konflik Iran. Harga minyak Brent terbaru dijanjikan di sekitar US$103,84 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$101,07 per barel. Pelemahan terjadi setelah harga minyak terkoreksi lebih dari 3% dalam dua sesi sebelumnya akibat meningkatnya harapan pemulihan pasokan energi dari Timur Tengah.
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah Arab Saudi mulai melakukan pemulihan terhadap jalur pipa East-West yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan. Saudi menargetkan sekitar setengah kapasitas pipa tersebut dapat kembali beroperasi dalam beberapa hari, sementara sebagian kapal tanker masih tetap melintasi Selat Hormuz meskipun risiko keamanan di kawasan tersebut masih tinggi.
Selain faktor pasokan, pasar juga mencerminkan perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya tengah mengambil keputusan besar terkait langkah berikutnya terhadap Teheran. Trump juga menjadwalkan pertemuan dengan para pemimpin negara Teluk di sela Sidang Majelis Umum PBB pekan depan untuk membahas perkembangan konflik tersebut.
Ketegangan di kawasan tetap menjadi perhatian karena kelompok Houthi yang didukung Iran terus meningkatkan aktivitas militernya di Yaman, termasuk mendekati wilayah strategis Bab el-Mandeb serta melakukan serangan terhadap fasilitas di Arab Saudi. Di sisi lain, Tiongkok dilaporkan telah meminta Iran membantu menenangkan aktivitas Houthi setelah adanya permintaan dari Riyadh, menunjukkan upaya diplomasi mulai menjadi salah satu fokus untuk mengurangi eskalasi konflik.
Pergerakan minyak sepanjang pekan ini masih sangat fluktuatif. Harga sempat melonjak akibat gangguan terhadap infrastruktur minyak Saudi sebelum akhirnya terkoreksi setelah pasar melihat adanya peluang tambahan pasokan. Meski demikian, harga minyak Brent masih berada jauh lebih tinggi dibandingkan awal tahun karena konflik Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina terus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi energi global.
Analisis Newsmaker: Pelemahan harga minyak saat ini menunjukkan pasar mulai merespons peningkatan prospek pasokan, terutama dari upaya pemulihan jalur pipa Saudi dan jalur perdagangan energi yang masih berjalan. Namun, risiko geopolitik tetap menjadi faktor utama yang dapat kembali mengubah arah harga. Selama konflik Iran dan ketegangan di sekitar jalur strategi energi belum sepenuhnya mereda, pasar minyak masih berpotensi bergerak dengan volatilitas tinggi. (asd)