
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa (15/9) karena investor menimbang risiko pasokan dari Timur Tengah dan Rusia. Brent untuk pengiriman November naik sekitar 0,3% ke US$105,98 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk Oktober menguat 1% ke US$102,37 per barel.
Di Timur Tengah, pasar masih mencermati pipa East-West Arab Saudi yang belum kembali beroperasi setelah ditutup akibat serangan. Jalur tersebut menjadi alternatif penting sejak konflik Iran mengganggu pengiriman melalui Teluk Persia. Arab Saudi kini disebut berupaya meningkatkan pengiriman melalui Selat Hormuz untuk mengimbangi gangguan pada pipa tersebut.
Namun, kenaikan minyak tertahan oleh harapan adanya deeskalasi dalam konflik Rusia-Ukraina. Setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan gencatan serangan terhadap infrastruktur energi, Turki meningkatkan upaya mediasi antara Moskow dan Kyiv. Ukraina menyatakan siap menerima kesepakatan jika Rusia melakukan hal yang sama, sementara Kremlin menyebut gagasan tersebut sebagai langkah yang baik.
Meski demikian, serangan terhadap infrastruktur energi masih berlanjut. Ukraina mengatakan telah menyerang kilang Syzran di wilayah Volga Rusia. Kondisi ini membuat pasar tetap memperhitungkan risiko gangguan pasokan meskipun peluang diplomasi mulai muncul.
Indikator pasar juga masih menunjukkan kondisi pasokan yang ketat. Spread kontrak terdekat Brent berada sekitar US$4,80 per barel dalam kondisi backwardation, meningkat tajam dari kurang dari US$2 sebulan lalu. Pola tersebut biasanya menunjukkan kuatnya permintaan terhadap pasokan jangka pendek.
Analisa Newsmaker: fundamental minyak masih cenderung bullish karena gangguan nyata pada infrastruktur dan pasokan belum sepenuhnya pulih. Namun, potensi kesepakatan Rusia-Ukraina menjadi faktor yang dapat mengurangi premi risiko. Selama pipa Saudi masih terganggu dan serangan terhadap infrastruktur energi terus terjadi, Brent berpotensi tetap bertahan di level tinggi. (arl)
Sumber: Newsmaker.id