
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak stabil setelah mencatat kenaikan selama dua hari berturut-turut, dengan fokus pasar tertuju pada risiko gangguan pasokan dari Arab Saudi dan Libya. Kondisi ini menunjukkan pasar minyak global semakin ketat di tengah meningkatnya persaingan untuk mendapatkan pasokan ke wilayah Eropa.
West Texas Intermediate atau WTI diperdagangkan di atas US$104 per barel setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak Mei pada Selasa. Sementara itu, Brent ditutup mendekati US$107 per barel, mencerminkan premi risiko yang masih kuat di pasar energi global.
Gangguan utama datang dari pipa East-West Arab Saudi yang masih offline sejak pekan lalu setelah serangan. Jalur ini penting karena memungkinkan ekspor minyak Saudi melewati rute alternatif tanpa harus melalui Selat Hormuz yang masih diperebutkan.
Di Libya, produksi juga terganggu setelah output di ladang Hamada dan al-Tahara terhenti akibat penutupan katup utama. Belum ada kepastian kapan pipa Saudi akan kembali beroperasi, meskipun Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan gangguan tersebut kemungkinan berlangsung dalam hitungan hari.
Akibat gangguan itu, Saudi Aramco dilaporkan menunda pengiriman minyak ke sejumlah pelanggan Eropa. Kondisi ini memicu pencarian pasokan alternatif, sementara pasar diesel juga semakin ketat akibat konflik Timur Tengah dan serangan Ukraina terhadap kilang Rusia.
Biaya pengiriman minyak ikut melonjak karena arus pelayaran global terganggu. Aliran kapal melalui Hormuz masih berada di bawah level sebelum perang, sementara biaya pengiriman minyak mentah AS ke Asia mencapai rekor, dengan kapal VLCC dari Teluk AS ke China mencapai US$44,8 juta.
Di sisi makro, reli minyak dan kenaikan biaya produk energi menambah tekanan inflasi global. The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada Rabu untuk menahan laju kenaikan harga, sementara pasar juga menunggu data resmi persediaan minyak AS setelah API melaporkan stok crude naik 7,1 juta barel pekan lalu.
Analisis Newsmaker: Stabilnya minyak di level tinggi menunjukkan pasar belum melihat risiko pasokan benar-benar mereda. WTI di atas US$105 dan Brent dekat US$109 memberi sinyal bahwa gangguan Saudi, Libya, Hormuz, serta ketatnya pasar diesel masih menjadi faktor utama. Jika pipa East-West Saudi kembali beroperasi dalam waktu dekat dan stok AS meningkat besar, harga minyak berpeluang terkoreksi. Namun, jika gangguan pasokan berlanjut, minyak masih berpotensi mempertahankan level tinggi dan memperbesar tekanan inflasi global. (asd)