
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas melemah pada perdagangan Selasa (15/9) karena penguatan dolar AS dan tingginya yield Treasury kembali membebani logam mulia. Emas spot turun sekitar 0,1% ke US$4.293,29 per troy ounce setelah sehari sebelumnya menyentuh level terendah sejak 7 Agustus. Sementara itu, emas berjangka AS ditutup turun 0,4% di US$4.332,80.
Tekanan terhadap emas semakin besar setelah harga minyak melonjak lebih dari US$3 per barel. Kekhawatiran pasokan meningkat setelah aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan Yanbu, Arab Saudi, dilaporkan dihentikan dan Libya menghentikan operasi di tiga ladang minyak. Kondisi tersebut kembali meningkatkan risiko inflasi global.
Pasar kini menunggu keputusan Federal Reserve pada Rabu. Investor memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Namun, fokus utama bukan hanya pada keputusan kenaikan bunga, melainkan apakah Ketua The Fed Kevin Warsh akan memberikan sinyal pengetatan lebih lanjut setelah September.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007, sementara dolar AS juga menguat. Kombinasi tersebut menjadi tekanan bagi emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan bunga. Meski emas biasanya dipandang sebagai lindung nilai inflasi dan geopolitik, tingginya yield saat ini membuat daya tarik Treasury lebih besar.
Logam mulia lainnya bergerak beragam. Silver naik sekitar 0,3% ke US$63,41 per troy ounce, platinum menguat 0,7% ke US$1.772,32, sementara palladium naik tipis 0,1% ke US$1.294,14.
Analisa Newsmaker: sebagian besar ekspektasi Fed hike tampaknya sudah masuk ke harga, sehingga arah emas berikutnya akan sangat bergantung pada komentar The Fed setelah keputusan suku bunga. Jika Warsh menegaskan suku bunga akan tetap tinggi atau membuka peluang kenaikan lanjutan, gold masih berisiko tertekan. Sebaliknya, nada yang lebih hati-hati dapat membuka ruang rebound.
Sumber: Newsmaker.id