
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Ledakan industri kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bukan hanya berdampak pada pasar saham, tetapi juga berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi. Namun, bukan kenaikan harga saham perusahaan AI yang secara langsung membuat inflasi naik. Tekanan justru dapat muncul dari besarnya investasi dan kebutuhan industri AI.
Ketika perusahaan berlomba membangun pusat data dan meningkatkan kapasitas AI, permintaan terhadap chip, server, listrik, lahan, hingga tenaga kerja ikut meningkat. Jika permintaan tumbuh lebih cepat daripada pasokan, harga barang dan jasa yang dibutuhkan industri tersebut dapat terdorong naik. Persaingan mendapatkan tenaga ahli AI juga dapat meningkatkan upah dan menambah biaya perusahaan.
Kondisi tersebut dapat membuat ekonomi tetap berjalan kuat ketika inflasi belum sepenuhnya terkendali. Jika konsumsi, investasi, dan permintaan tenaga kerja masih tinggi, tekanan harga berpotensi menjadi lebih sulit turun. Situasi ini menjadi perhatian bagi The Fed karena bank sentral harus memastikan inflasi kembali menuju target tanpa membuat ekonomi kehilangan momentum.
Namun, AI juga memiliki sisi positif terhadap inflasi dalam jangka panjang. Jika teknologi AI mampu meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya operasional, dan membuat perusahaan menghasilkan lebih banyak barang dan jasa dengan sumber daya yang sama, AI justru dapat membantu menekan biaya produksi dan inflasi.
Dampak ke market: jika boom AI mendorong permintaan dan inflasi AS tetap tinggi, pasar dapat memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi mendorong yield obligasi AS dan dolar menguat sehingga menjadi tekanan bagi Gold. Sebaliknya, apabila peningkatan produktivitas AI berhasil menekan biaya dan inflasi, ruang pelonggaran kebijakan The Fed dapat semakin terbuka dan berpotensi menjadi katalis positif bagi Gold.(CP)