
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Iran menghadapi peningkatan serangan kelompok militan separatis di wilayah tenggara negara itu, menambah tekanan keamanan ketika Teheran masih berada dalam kondisi siaga menghadapi potensi serangan lanjutan dari Amerika Serikat. Sedikitnya delapan anggota pasukan keamanan Iran dilaporkan tewas dalam tiga minggu terakhir di Provinsi Sistan dan Baluchestan.
Korban terbaru mencakup seorang polisi dan seorang anggota perempuan milisi Basij yang tewas dalam serangan bersenjata di dekat Mehrestan. Sejumlah korban lain termasuk seorang komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta seorang pejabat provinsi yang tewas akibat ledakan bom pinggir jalan.
Lonjakan kekerasan terjadi ketika konflik antara AS-Israel dan Iran mendekati bulan kesembilan, sementara ketegangan terkait Selat Hormuz belum mereda. Presiden AS Donald Trump menyebut kemungkinan tindakan terhadap Iran masih terbuka sebelum pemilu paruh waktu 3 November, sedangkan Kepala Militer Iran Amir Hatami menegaskan pasukannya tetap dalam kesiagaan tinggi.
Sistan dan Baluchestan selama bertahun-tahun menjadi wilayah rawan konflik antara aparat Iran dan kelompok bersenjata Sunni. Pemerintah Iran kerap menuding pihak asing mendukung kelompok seperti Jaysh al-Adl untuk menciptakan ketidakstabilan. Pemerintah juga meningkatkan pengamanan perbatasan, termasuk pembangunan tembok dan penutupan sejumlah jalur akses oleh IRGC.
Ketegangan di wilayah tersebut turut diperparah oleh kemiskinan, kelangkaan air, persoalan ketenagakerjaan, dan ketidakpuasan sebagian masyarakat Baluch terhadap pemerintah. Kombinasi konflik internal dan meningkatnya tekanan geopolitik membuat situasi keamanan Iran semakin kompleks, sekaligus menambah risiko baru di tengah ketegangan yang masih tinggi di kawasan Timur Tengah.